Sesibuk apapun saya, kalo ada kawan yang 'dengan polosnya' menenteng daypack atau carrier ke kos saya hanya untuk bilang "aku pergi dulu ya...", maka besar kemungkinan tidak akan saya biarkan dia pergi sendiri. Apalagi ditambah Situasi Gunung Merapi yang baru bulan lalu mengeluarkan awan panasnya hingga menelan ratusan korban jiwa dan ribuan pengungsi.
Akhirnya dengan 'ringan hati' saya bersama bung Deny Ichsan, jam 2 pagi berangkat dari kos dan menuju ke Selo, dusun pintu masuk pos pendakian Gunung Merapi. Rencana muluk-muluk di dalam perjalanan bahwa kami akan segera istirahat tidur begitu sampai di basecamp hanyalah hiburan mengusir rasa kantuk saja. Sampai di basecamp, justru kami masing-masing menegaskan diri sebagai 'pecinta begadang'.
Hari mulai terang, kami pun siap berangkat. Di sekeliling masih tampak bekas-bekas erupsi tempo hari. Pohon-pohon kehilangan daun. Hanya beberapa petak kebun dimana daun bawang sukses membuat desa ini tampak hijau kembali. Dinginnya air di pagi hari juga cukup membuat sepasang mata yang belum tidur ini kembali 'hijau' juga.
Akhirnya dengan 'ringan hati' saya bersama bung Deny Ichsan, jam 2 pagi berangkat dari kos dan menuju ke Selo, dusun pintu masuk pos pendakian Gunung Merapi. Rencana muluk-muluk di dalam perjalanan bahwa kami akan segera istirahat tidur begitu sampai di basecamp hanyalah hiburan mengusir rasa kantuk saja. Sampai di basecamp, justru kami masing-masing menegaskan diri sebagai 'pecinta begadang'.
Hari mulai terang, kami pun siap berangkat. Di sekeliling masih tampak bekas-bekas erupsi tempo hari. Pohon-pohon kehilangan daun. Hanya beberapa petak kebun dimana daun bawang sukses membuat desa ini tampak hijau kembali. Dinginnya air di pagi hari juga cukup membuat sepasang mata yang belum tidur ini kembali 'hijau' juga.
Singkat cerita, pendakian kami bisa dibilang lancar. Berangkat jam 8 pagi dan tiba di Pasar Bubrah pukul 1.30 siang. Setelah puas mengambil gambar, kami hendak terus mendaki hingga ke puncak. Namun ternyata kondisi tidak memungkinkan. Jalur lama sudah total berubah dan kondisi pasir serta bebatuan menuju puncak masih sangat panas. Akhirnya kami pun memutuskan untuk makan siang lalu berencana bergegas turun karena langit yang tiba-tiba mendung pekat.
Apa yang terjadi berikutnyalah yang tak akan pernah saya lupakan. Gemuruh sebanyak dua kali terdengar. Pada saat itu bahkan kami hanya mengira itu hanya suara petir dari kejauhan sehingga kami masih sempat membuat video yang merekam kondisi pasar bubrah pasca erupsi. Namun gemuruh terjadi lagi sehingga kami berdua menyangka bahwa suara itu adalah suara dari kawah merapi. Kami pun bergegas lari untuk turun, namun baru beberapa langkah, kami seperti dihujani oleh kerikil kecil. Panik kami pun semakin berpikir bahwa merapi siap memuntahkan material nya lagi.
Tapi ternyata butiran kerikil tersebut adalah hujan es. Walau pun kecil dan tidak begitu sakit ketika mengenai kepala, suhu di sekitar berubah menjadi sangat ekstrim. Saya juga tidak begitu mengerti apakan dingin ini karena kepanikan saya (soalnya udara di puncak kan memang dingin). Saya dan Deni pun mulai mengambil mantel sementara hujan es tersebut semakin lebat dan petir saat itu adalah petir terdahsyat selama hidup saya. Kilatan cahaya tampak sangat dekat di mata.
Medan turun yang licin dan terjal ditambah hujan dan petir yang tak henti-hentinya menggoda kami akhirnya bisa cukup puas melihat kami berdua terindikasi keram otot. Saya pun memanggil Denny, lalu bilang "cuy..ayo kita doa dulu terus turunnya pelan-pelan satu garis saja.."
(-----------------------------------------)
Inilah tempat dimana saya belajar dua hal :
Kedua, "doa bukanlah jalan keluar atas masalah yang memicu keresahanmu. Doa adalah dialog batin, memohon serpihan kekuatan yang berhamburan untuk menyatu. Doa mengumpulkan keyakinan,dan menguatkan kita untuk terus berupaya mencari jalan keluar"
pertama,"kalau kamu menginginkan sesuatu yang baik,maka seluruh isi alam semesta akan mendukungmu".
Kedua, "doa bukanlah jalan keluar atas masalah yang memicu keresahanmu. Doa adalah dialog batin, memohon serpihan kekuatan yang berhamburan untuk menyatu. Doa mengumpulkan keyakinan,dan menguatkan kita untuk terus berupaya mencari jalan keluar"
Trimakasih untuk kabut,petir,hujan es,dan kawanku Deny Ichsan a.k.a Cuy. Kita bayar !!


0 comments:
Post a Comment