Showing posts with label ulat. Show all posts
Showing posts with label ulat. Show all posts

the art of "ffhuuuhhh...."

|
                   
“hhhhmmmmmmm…” 


adalah ekspresi yang pantas untuk disandingkan dengan detik-detik setelah menyeruput secangkir kopi hangat. Seperti jeda kosong diantara playlist lagu pada pita kaset, menikmati segelas kopi disela ketidakpastian beruntun memang sangatlah sayang bila dilewatkan. Hembusan nafas seperti “ffhuuuhh…” yang keluar bersama gumpalan asap rokok juga merupakan momen yang jarang sekali bisa dibahasakan dengan sempurna.

Ini malam bersama seorang kawan,   saya ngobrol disebuah kedai kopi terkenal di Yogyakarta. Kopi Joss. Letaknya persis disebelah utara stasiun K.A Tugu. Kita berbincang banyak hal, mulai dari situasi politik, peluang wirausaha, buku atau film-film terbaru hingga ke topik-topik random lainnya.

Tidak banyak yang bisa saya tuliskan disini, namun satu hal yang menarik saat saya bercerita tentang keragu-raguan saya akan satu hal, dia meraih sendok pada gelas kopinya. Mengaduk-ngaduk kopi yang bisa dibilang sudah setengah dingin lalu menyisihkan satu gumpalan arang yang ada dalam gelas. Seperti seorang filsuf Athena, ia membakar batang rokok yang kesekian, dan berucap “fffuuuhhhh…”

just have a little faith -12 Februari 2011-

|
Sesibuk apapun saya, kalo ada kawan yang 'dengan polosnya' menenteng daypack atau carrier ke kos saya hanya untuk bilang "aku pergi dulu ya...", maka besar kemungkinan tidak akan saya biarkan dia pergi sendiri. Apalagi ditambah Situasi Gunung Merapi yang baru bulan lalu mengeluarkan awan panasnya hingga menelan ratusan korban jiwa dan ribuan pengungsi.

Akhirnya dengan 'ringan hati' saya bersama bung Deny Ichsan, jam 2 pagi berangkat dari kos dan menuju ke Selo, dusun pintu masuk pos pendakian Gunung Merapi. Rencana muluk-muluk di dalam perjalanan bahwa kami akan segera istirahat tidur begitu sampai di basecamp hanyalah hiburan mengusir rasa kantuk saja. Sampai di basecamp, justru kami masing-masing menegaskan diri sebagai 'pecinta begadang'.

Hari mulai terang, kami pun siap berangkat. Di sekeliling masih tampak bekas-bekas erupsi tempo hari. Pohon-pohon kehilangan daun. Hanya beberapa petak kebun dimana daun bawang sukses membuat desa ini tampak hijau kembali. Dinginnya air di pagi hari juga cukup membuat sepasang mata yang belum tidur ini kembali 'hijau' juga.


Singkat cerita, pendakian kami bisa dibilang lancar. Berangkat jam 8 pagi dan tiba di Pasar Bubrah pukul 1.30 siang. Setelah puas mengambil gambar, kami hendak terus mendaki hingga ke puncak. Namun ternyata kondisi tidak memungkinkan. Jalur lama sudah total berubah dan kondisi pasir serta bebatuan menuju puncak masih sangat panas. Akhirnya kami pun memutuskan untuk makan siang lalu berencana bergegas turun karena langit yang tiba-tiba mendung pekat.

Apa yang terjadi berikutnyalah yang tak akan pernah saya lupakan. Gemuruh sebanyak dua kali terdengar. Pada saat itu bahkan kami hanya mengira itu hanya suara petir dari kejauhan sehingga kami masih sempat membuat video yang merekam kondisi pasar bubrah pasca erupsi. Namun gemuruh terjadi lagi sehingga kami berdua menyangka bahwa suara itu adalah suara dari kawah merapi. Kami pun bergegas lari untuk turun, namun baru beberapa langkah, kami seperti dihujani oleh kerikil kecil. Panik kami pun semakin berpikir bahwa merapi siap memuntahkan material nya lagi. 

Tapi ternyata butiran kerikil tersebut adalah hujan es. Walau pun kecil dan tidak begitu sakit ketika mengenai kepala, suhu di sekitar berubah menjadi sangat ekstrim. Saya juga tidak begitu mengerti apakan dingin ini karena kepanikan saya (soalnya udara di puncak kan memang dingin). Saya dan Deni pun mulai mengambil mantel sementara hujan es tersebut semakin lebat dan petir saat itu adalah petir terdahsyat selama hidup saya. Kilatan cahaya tampak sangat dekat di mata.

Medan turun yang licin dan terjal ditambah hujan dan petir yang tak henti-hentinya menggoda kami akhirnya bisa cukup puas melihat kami berdua terindikasi keram otot. Saya pun memanggil Denny, lalu bilang "cuy..ayo kita doa dulu terus turunnya pelan-pelan satu garis saja.."

(-----------------------------------------)

Inilah tempat dimana saya belajar dua hal :

pertama,"kalau kamu menginginkan sesuatu yang baik,maka seluruh isi alam semesta akan mendukungmu".

Kedua, "doa bukanlah jalan keluar atas masalah yang memicu keresahanmu. Doa adalah dialog batin, memohon serpihan kekuatan yang berhamburan untuk menyatu. Doa mengumpulkan keyakinan,dan menguatkan kita untuk terus berupaya mencari jalan keluar"

Trimakasih untuk kabut,petir,hujan es,dan kawanku Deny Ichsan a.k.a Cuy. Kita bayar !!

*top playlist

|

ada yang tau lagunya Mika Nakashima yang judulnya Yuki No Hana ? Sudah hampir satu bulan ini aku senang sekali memutar lagu ini. Tapi ada yang versi Eric Martin yang lebih aku suka. Liriknya direvisi ke dalam bahasa inggris dan dimasukan dalam album solo Eric Martin yang Mr.Vocalist 2008. Buat yang tertarik pgn dengar lagunya,silahkan download disini.
Ini sekalian aku copykan liriknya.




Eric Martin - Yuki No Hana

Together hand in hand we walked through evening gloom
Long shadows on the pavement, cast from the sunset sky
If only this would last until the end of time
And if this is forever I swear that I could cry

The northern wind starts to blow
And the smell of winter’s in the air
As we take each step upon the ground
The season of love grows near

We could share the very first snowflowers of the year
In your arms where I belong
Watch as the city turns from grey to white
The day turns into night
Love that floats like wayward clouds, that’s not what we’re about
Sure and strong is my love for you
And it comes from the bottom of my heart

With you by my side, to catch me when I fall
I can cast my fears aside; feel twice as tall
If only this would last, this smile upon my face
And if this is forever, you’re my saving grace

The nights were so cold without you
And the days were always short on light
Now a fire’s warming me through
And suddenly this upturned world is feeling right

We could share the very first snowflowers of the year
In your arms where I belong
Watch as the city turns from grey to white
The day turns into night
Love that floats like wayward clouds, that’s not what we’re about
Sure and strong is my love for you
And it comes from the bottom of my heart

If there comes a time when you have lost your way
I’ll turn myself into a star to guide you through
If ever you find tears upon your face
I will be there, always be there for you

We could share the very first snowflowers of the year
In your arms where I belong
Watch as the city turns from grey to white
The day turns into night
Love that floats like wayward clouds, that’s not what we’re about
Sure and strong is my love for you
The city turns from grey to white
The day turns into night

We could share the very first snowflowers of the year
In your arms where I belong

Cold winds from the North blow
The sky casts its last glow
But you and I are standing strong

interlude..

|


Pada satu babak waktu yang disebut sebagai era yunani kuno dalam sejarah filsafat barat,Thales (624-546 SM) mengatakan bahwa zat utama yang menjadi dasar bagi asal-usul serta proses perubahan alam kebendaan adalah AIR.
Dan pagi ini, AIR menjadi barang yang langka, (langsung saja; aku terbangun karena haus dan galon Aqua hanya berisi udara). Kalo dalam bingkai Thales, aku akan masuk dalam kelompok "makhluk" tanpa asal usul dan tentu saja tidak akan mengalami yang namanya perubahan. Sedih nya...Besok isi galon !! Thales harus tau di Indonesia sumber air su dekat.