Teman Tidur.

|
“Teach me how to dream...help me make a wish...If I wish for you, will you make my wish come true...” 

Perlahan dengan satu tangan, aku meraih radio kecil itu. Aku tidak butuh bentuk kehadiran apapun dalam momen-momen seperti ini. Lagipula, aku hanya tidak ingin visi dan dedikasi hidupku padamu tegoyahkan hanya oleh lagu klasik dengan lirik pop murahan ala Robbie Mc Auley. Aku menekan tombol off lalu meletakkannya lagi ditempat semula, diatas meja.

Aku membetulkan posisi badan dan lengan ku, kembali kunikmati dalam pandang tiap jengkal teduh wajahmu meski setengah kesadaranku masih tertinggal bersama lirik lagu tadi. Memang aneh rasanya jika ritual rutin antara kau dan aku malam ini harus terganggu hanya oleh lirik. Mematikan radio adalah pilihan yang tepat bukan ?

the art of "ffhuuuhhh...."

|
                   
“hhhhmmmmmmm…” 


adalah ekspresi yang pantas untuk disandingkan dengan detik-detik setelah menyeruput secangkir kopi hangat. Seperti jeda kosong diantara playlist lagu pada pita kaset, menikmati segelas kopi disela ketidakpastian beruntun memang sangatlah sayang bila dilewatkan. Hembusan nafas seperti “ffhuuuhh…” yang keluar bersama gumpalan asap rokok juga merupakan momen yang jarang sekali bisa dibahasakan dengan sempurna.

Ini malam bersama seorang kawan,   saya ngobrol disebuah kedai kopi terkenal di Yogyakarta. Kopi Joss. Letaknya persis disebelah utara stasiun K.A Tugu. Kita berbincang banyak hal, mulai dari situasi politik, peluang wirausaha, buku atau film-film terbaru hingga ke topik-topik random lainnya.

Tidak banyak yang bisa saya tuliskan disini, namun satu hal yang menarik saat saya bercerita tentang keragu-raguan saya akan satu hal, dia meraih sendok pada gelas kopinya. Mengaduk-ngaduk kopi yang bisa dibilang sudah setengah dingin lalu menyisihkan satu gumpalan arang yang ada dalam gelas. Seperti seorang filsuf Athena, ia membakar batang rokok yang kesekian, dan berucap “fffuuuhhhh…”

existentialism. (part 2)

|

Sekarang bayangkan, bagaimana jika Pak Tua (Si Ayah) tadi hanya sendiri tanpa anak laki-lakinya, dan juga tanpa orang-orang dijalan yang menyaksikannya. Tentu saja Si Ayah akan menjadi subyek, yang bebas dan merdeka.


Adalah Jean Paul Sartre, salah seorang filsuf penganut eksistensialisme, yang mengatakan “Orang lain adalah neraka bagi diriku.” Karena anak laki-lakinya, Si Ayah menjadi tidak bebas untuk memperlakukan atau menaiki kudanya. Begitu juga kehadiran orang-orang lain yang memperhatikannya disepanjang jalan membuat Si Ayah menjadi tidak merdeka. Bahkan mereka (orang-rang lain tersebut) yang menjadi subyek, sedangkan si Ayah hanya sekedar obyek. Penderita. Dicaci-maki. Dibaweli.  Kebebasan dan kemerdekaan si Ayah pun terenggut oleh kehadiran orang lain.

existentialism.

|
Sabtu dini hari pukul 3.45 Waktu Indonesia Bagian Galau.




Saya akan mengawali entri ini dengan sebuah ilustrasi sederhana.
Pada suatu hari, seorang Ayah mengajak seorang anak laki-lakinya ke pasar ternak. Rencananya hari itu mereka akan membeli seekor kuda. Setibanya di pasar ternak, mereka pun menemukan salah satu kuda terbaik dan langsung membelinya. Untuk memastikan bahwa hewan yang baru saja dibeli itu benar-benar seekor kuda terbaik, maka dalam perjalanan pulang sang Ayah menyuruh Anak laki-laki nya itu untuk menunggangi kuda sementara Ayahnya akan menggiring tali sambil berjalan kaki. Anak laki-laki itu pun lantas naik ke punggung kuda dan ayahnya perlahan menarik tali yang terikat di leher kuda agar bergerak maju.

Apa yang terjadi ? Sepanjang perjalanan, orang-orang mencemooh dan memaki si Anak. Mereka menganggap bahwa si Anak itu adalah durhaka, tidak berbelas kasih pada Ayahnya, dan masih banyak lagi celotehan lain. Tak tahan, si Anak pun turun dari punggung kuda dan memohon kepada Ayahnya untuk gantian menaiki kuda itu. Si Anak akan memegang tali sambil berjalan dan Ayahnya cukup duduk manis diatas pelana kuda.

Apa yang terjadi kemudian ? Kini orang-orang yang melihat justru semakin keras mencemooh dan memaki si Ayah. Mereka menganggap pak tua itu adalah orang yang tidak tahu diri karena menyiksa anak sendiri. Si ayah dianggap tidak berhati nurani karena membiarkan anak laki-laki yang belum dewasa itu berpanas-panasan sementara ayahnya duduk manis diatas pelana kuda. Tak tahan, Si Ayah pun turun dari punggung kuda.
|
 bukankah tiada yang lebih indah ketika semua warna terpancarkan ?
dan kita terbeku tanpa memilih,
membiarkan semua berlalu tanpa sebuah penilaian ?
 

Gold Essay

|

Bagaimana caranya menjaga agar langkah terus tercipta saat yang kau inginkan hanya duduk diam mengamati bayangannya ?

Bagaimana kau menggambarkan hati yang membuncah sedang pensilmu,warna-warnamu kau rasa tak cukup pantas menjadi saksi sejarah yang tengah bergulir ?

Bagaimana rasanya bangun dan dihujani hadiah terindah pertama pagi;ingatan tentang nya ?

Bagaimana rasanya mengabaikan ? mengabaikan esok yang tak pasti ?

Bagaimana menemukan keberanian untuk mengantar persembahan, dengan satu harapan kau dianggap ada karena kehadiranmu,bukan persembahanmu ?

Bagaimana mengulang kelegaan yang kau rasa, sesaat setelah ribuan kata berlalu,merasakan setiap tawanya seiring dengan detik yang kalian habiskan ?

Bagaimana rasanya enggan berfikir,enggan menyimpulkan,karena bukankah kedamaian seperti ini sudah cukup membuat mu tidur setelah mendoakannya terlebih dahulu ?

Bagaimana mungkin kau terbiasa mendengar lagu yang ia suka ?

Bagaimana menggambarkan kata ‘’sabar” yang kau ucapkan padanya saat ia terluka sedang pelukanmu tak tahan lagi bersembunyi,menanti untuk didekapnya,lebih erat ?

just have a little faith -12 Februari 2011-

|
Sesibuk apapun saya, kalo ada kawan yang 'dengan polosnya' menenteng daypack atau carrier ke kos saya hanya untuk bilang "aku pergi dulu ya...", maka besar kemungkinan tidak akan saya biarkan dia pergi sendiri. Apalagi ditambah Situasi Gunung Merapi yang baru bulan lalu mengeluarkan awan panasnya hingga menelan ratusan korban jiwa dan ribuan pengungsi.

Akhirnya dengan 'ringan hati' saya bersama bung Deny Ichsan, jam 2 pagi berangkat dari kos dan menuju ke Selo, dusun pintu masuk pos pendakian Gunung Merapi. Rencana muluk-muluk di dalam perjalanan bahwa kami akan segera istirahat tidur begitu sampai di basecamp hanyalah hiburan mengusir rasa kantuk saja. Sampai di basecamp, justru kami masing-masing menegaskan diri sebagai 'pecinta begadang'.

Hari mulai terang, kami pun siap berangkat. Di sekeliling masih tampak bekas-bekas erupsi tempo hari. Pohon-pohon kehilangan daun. Hanya beberapa petak kebun dimana daun bawang sukses membuat desa ini tampak hijau kembali. Dinginnya air di pagi hari juga cukup membuat sepasang mata yang belum tidur ini kembali 'hijau' juga.


Singkat cerita, pendakian kami bisa dibilang lancar. Berangkat jam 8 pagi dan tiba di Pasar Bubrah pukul 1.30 siang. Setelah puas mengambil gambar, kami hendak terus mendaki hingga ke puncak. Namun ternyata kondisi tidak memungkinkan. Jalur lama sudah total berubah dan kondisi pasir serta bebatuan menuju puncak masih sangat panas. Akhirnya kami pun memutuskan untuk makan siang lalu berencana bergegas turun karena langit yang tiba-tiba mendung pekat.

Apa yang terjadi berikutnyalah yang tak akan pernah saya lupakan. Gemuruh sebanyak dua kali terdengar. Pada saat itu bahkan kami hanya mengira itu hanya suara petir dari kejauhan sehingga kami masih sempat membuat video yang merekam kondisi pasar bubrah pasca erupsi. Namun gemuruh terjadi lagi sehingga kami berdua menyangka bahwa suara itu adalah suara dari kawah merapi. Kami pun bergegas lari untuk turun, namun baru beberapa langkah, kami seperti dihujani oleh kerikil kecil. Panik kami pun semakin berpikir bahwa merapi siap memuntahkan material nya lagi. 

Tapi ternyata butiran kerikil tersebut adalah hujan es. Walau pun kecil dan tidak begitu sakit ketika mengenai kepala, suhu di sekitar berubah menjadi sangat ekstrim. Saya juga tidak begitu mengerti apakan dingin ini karena kepanikan saya (soalnya udara di puncak kan memang dingin). Saya dan Deni pun mulai mengambil mantel sementara hujan es tersebut semakin lebat dan petir saat itu adalah petir terdahsyat selama hidup saya. Kilatan cahaya tampak sangat dekat di mata.

Medan turun yang licin dan terjal ditambah hujan dan petir yang tak henti-hentinya menggoda kami akhirnya bisa cukup puas melihat kami berdua terindikasi keram otot. Saya pun memanggil Denny, lalu bilang "cuy..ayo kita doa dulu terus turunnya pelan-pelan satu garis saja.."

(-----------------------------------------)

Inilah tempat dimana saya belajar dua hal :

pertama,"kalau kamu menginginkan sesuatu yang baik,maka seluruh isi alam semesta akan mendukungmu".

Kedua, "doa bukanlah jalan keluar atas masalah yang memicu keresahanmu. Doa adalah dialog batin, memohon serpihan kekuatan yang berhamburan untuk menyatu. Doa mengumpulkan keyakinan,dan menguatkan kita untuk terus berupaya mencari jalan keluar"

Trimakasih untuk kabut,petir,hujan es,dan kawanku Deny Ichsan a.k.a Cuy. Kita bayar !!

vela.

|
Tiada hari yang tidak Ia habiskan di tepi pantai ini. Tak peduli apakah hari ini matahari akan bertemu bulan di tempat biasa, atau justru bulan yang berlari menghindari matahari. Bagi nya cepat atau lambatnya waktu tak lagi menjadi hal yang menarik. Ia memilih menjadi buta dibalik bingkisan sinar matanya yang teduh, persis seperti ia terbiasa menjadi besi di balik balutan kulit yang terus meronta dikala siang dan menggigil di waktu malam.

Hari ini tepat hari ke 1800 ia merayakan kesendiriannya di pantai ini. Ia tau betul karena tak satu haripun terlewatkan olehnya tanpa menghitung hari. Memang 1800 hari bukanlah waktu yang sebentar. Jika saja jagung dipanen pada usia 1800 hari, tentu tidak ada istilah ‘seumur jagung’. Tapi hitungan 1800 ternyata belum juga mampu memberikan jarak yang jauh dari hari terakhir yang ia ingat.

(…………………)

Ia berlari kearah laut, berlari dan terus berlari seperti laju pedang yang dihunus untuk menusuk dan membelah ombak. Tak ia rasakan lagi tajamnya karang membuat telapak kakinya bedarah. Darah yang disambut langsung oleh air laut,betapa pedihnya. Oh andai saja darah bisa membuatnya merasa hidup, tentu ia tak butuh ribuan hari, namun luka tak berdarah ini terlalu tangguh merenggut hidupnya.

(diam)

|
aku takut kau hilang saat aku berkata-kata;
itulah kenapa aku memilih menjagamu dalam diam.
aku dan kata berlari menuju mu;
aku rela membunuh kata jika ia terus berpikir ia bisa lebih dulu melukis senyum mu.

meredam disela memendam.

|
Apa bedanya memendam dengan meredam ? Kenapa harus ada kata seperti itu dalam bahasa manusia ? oh bukan, tepatnya kenapa nuansa seperti itu harus muncul dan dibahasakan ? Ya, itulah yang kupikir menjadi spirit dalam puisi ataupun sajak-sajak. Sampah.

Harus ku akui,aku mulai bosan dengan kata “tapi”. Kata yang slalu kugunakan untuk coba memberi perbedaan antara imaji dan realita. Oh jangan-jangan dunia mengerti, tidak mudah dan bukanlah suatu kesengajaan kalau aku adalah orang yang gemar menghias kata pengantar. Aku mengantar diriku sendiri, dengan ingatan cukup tentang apa yg harus kubawa ke tempatnya. Tugas klasik sebenarnya; mengantar. Penghantar ? Media ? Jembatan ? adalah 3 kata yang kutemukan pagi ini. Aku berbuat, aku menjadi, dan aku sebagai. Perlahan mulai ketemu benang merahnya. 

Dan ya,memendam ataupun meredam pun terjelaskan. Pernah berdiri di bawah jembatan atau diatas fly over ? Coba hitung berapa getaran yang tercipta saat ribuan kendaraan melintas melaluinya. Di pangkal,diantara sambungan,dan diujung jembatan adalah titik-titik dimana getaran menggema. Sayang jembatan tak bicara, dari kecil aku percaya bahwa kerja dan hasil kerja adalah aktualisasi dari manusianya. Kalau jembatan adalah versi beta dari perancangnya, mungkin dalam batas waktu tertentu ia tentu mengeluh. Akh…mengeluh pun terlalu jauh, andai saja ia sudi mengucap satu kata saja,seperti “aw….” atau “aduh…”. Bukan untuk member isyarat atau sekedar membenarkan potongan-potongan hikmah (sungguh aku benci kata hikmah,membuat manusia teralienasi) yang mau kususun pagi ini, tapi kadang kita (oke,AKU !!) memang rindu ingin merekayasa kehidupan dalam taraf yang lebih sederhana.