vela.

|
Tiada hari yang tidak Ia habiskan di tepi pantai ini. Tak peduli apakah hari ini matahari akan bertemu bulan di tempat biasa, atau justru bulan yang berlari menghindari matahari. Bagi nya cepat atau lambatnya waktu tak lagi menjadi hal yang menarik. Ia memilih menjadi buta dibalik bingkisan sinar matanya yang teduh, persis seperti ia terbiasa menjadi besi di balik balutan kulit yang terus meronta dikala siang dan menggigil di waktu malam.

Hari ini tepat hari ke 1800 ia merayakan kesendiriannya di pantai ini. Ia tau betul karena tak satu haripun terlewatkan olehnya tanpa menghitung hari. Memang 1800 hari bukanlah waktu yang sebentar. Jika saja jagung dipanen pada usia 1800 hari, tentu tidak ada istilah ‘seumur jagung’. Tapi hitungan 1800 ternyata belum juga mampu memberikan jarak yang jauh dari hari terakhir yang ia ingat.

(…………………)

Ia berlari kearah laut, berlari dan terus berlari seperti laju pedang yang dihunus untuk menusuk dan membelah ombak. Tak ia rasakan lagi tajamnya karang membuat telapak kakinya bedarah. Darah yang disambut langsung oleh air laut,betapa pedihnya. Oh andai saja darah bisa membuatnya merasa hidup, tentu ia tak butuh ribuan hari, namun luka tak berdarah ini terlalu tangguh merenggut hidupnya.

(diam)

|
aku takut kau hilang saat aku berkata-kata;
itulah kenapa aku memilih menjagamu dalam diam.
aku dan kata berlari menuju mu;
aku rela membunuh kata jika ia terus berpikir ia bisa lebih dulu melukis senyum mu.

meredam disela memendam.

|
Apa bedanya memendam dengan meredam ? Kenapa harus ada kata seperti itu dalam bahasa manusia ? oh bukan, tepatnya kenapa nuansa seperti itu harus muncul dan dibahasakan ? Ya, itulah yang kupikir menjadi spirit dalam puisi ataupun sajak-sajak. Sampah.

Harus ku akui,aku mulai bosan dengan kata “tapi”. Kata yang slalu kugunakan untuk coba memberi perbedaan antara imaji dan realita. Oh jangan-jangan dunia mengerti, tidak mudah dan bukanlah suatu kesengajaan kalau aku adalah orang yang gemar menghias kata pengantar. Aku mengantar diriku sendiri, dengan ingatan cukup tentang apa yg harus kubawa ke tempatnya. Tugas klasik sebenarnya; mengantar. Penghantar ? Media ? Jembatan ? adalah 3 kata yang kutemukan pagi ini. Aku berbuat, aku menjadi, dan aku sebagai. Perlahan mulai ketemu benang merahnya. 

Dan ya,memendam ataupun meredam pun terjelaskan. Pernah berdiri di bawah jembatan atau diatas fly over ? Coba hitung berapa getaran yang tercipta saat ribuan kendaraan melintas melaluinya. Di pangkal,diantara sambungan,dan diujung jembatan adalah titik-titik dimana getaran menggema. Sayang jembatan tak bicara, dari kecil aku percaya bahwa kerja dan hasil kerja adalah aktualisasi dari manusianya. Kalau jembatan adalah versi beta dari perancangnya, mungkin dalam batas waktu tertentu ia tentu mengeluh. Akh…mengeluh pun terlalu jauh, andai saja ia sudi mengucap satu kata saja,seperti “aw….” atau “aduh…”. Bukan untuk member isyarat atau sekedar membenarkan potongan-potongan hikmah (sungguh aku benci kata hikmah,membuat manusia teralienasi) yang mau kususun pagi ini, tapi kadang kita (oke,AKU !!) memang rindu ingin merekayasa kehidupan dalam taraf yang lebih sederhana.