Tiada hari yang tidak Ia habiskan di tepi pantai ini. Tak peduli apakah hari ini matahari akan bertemu bulan di tempat biasa, atau justru bulan yang berlari menghindari matahari. Bagi nya cepat atau lambatnya waktu tak lagi menjadi hal yang menarik. Ia memilih menjadi buta dibalik bingkisan sinar matanya yang teduh, persis seperti ia terbiasa menjadi besi di balik balutan kulit yang terus meronta dikala siang dan menggigil di waktu malam.
Hari ini tepat hari ke 1800 ia merayakan kesendiriannya di pantai ini. Ia tau betul karena tak satu haripun terlewatkan olehnya tanpa menghitung hari. Memang 1800 hari bukanlah waktu yang sebentar. Jika saja jagung dipanen pada usia 1800 hari, tentu tidak ada istilah ‘seumur jagung’. Tapi hitungan 1800 ternyata belum juga mampu memberikan jarak yang jauh dari hari terakhir yang ia ingat.
(…………………)
Ia berlari kearah laut, berlari dan terus berlari seperti laju pedang yang dihunus untuk menusuk dan membelah ombak. Tak ia rasakan lagi tajamnya karang membuat telapak kakinya bedarah. Darah yang disambut langsung oleh air laut,betapa pedihnya. Oh andai saja darah bisa membuatnya merasa hidup, tentu ia tak butuh ribuan hari, namun luka tak berdarah ini terlalu tangguh merenggut hidupnya.
