Erric Fromm (The Art of Loving)
Menelusuri Neoliberalisme.
Requim : Senyum Berkabung
Kepakkan gaunmu mengayun turun, karena telah kubangun seribu menara
Dengan riuh cahaya lampu agar kau tahu
Masih menggetar samar jantungku disana dilaut……
Burung burung menjelma perempuan buta yang mencakar gitar diatas sampan;
seribu mantra bersetubuh dengan remang bulan
Dan sesuatu yang terampas dari ingatan tersalib di pematang pasang
Lalu raib menyaru gelombang –
apa yang terbabtis dibalik senyummu hingga segala jerit dari sajak sajakku tak dari jemari maut yang terapung buntung ?
apa termakhtub dicelah bibirmu hingga ribuan pekik ?
aku tahu, igauanku barangkali
Tak berjawab, langit terlalu jauh dan tak mesti ada kabar bagi doa yang bingar !
Tetapi persekutuan yang kau pilih dengan diam,
Diam itu telah menghantarku pada badai lain,
dan aku tak mampu lagi
sembunyi atau sekedar gemetar memandang sampan yang mulai tergenang perlahan ini:
Oh jika remuk kembali langit di celah bibirmu
Jika lepuh seluruh cahaya dari rapuh mantraku
Biar laut menjadi nabi dari segala yang tak berbentuk
Pada segala karam yang terkutuk
*karya Kananta
ini puisi kalo kata anak gaul tuh gue banget lah... :)
Trinitas.
ke dahan dan rumput yg baru tumbuh
menumbuhkan kerinduan yang sengit;
aku menghadap kepadamu
tak bisa menjerit
Udara adalah satu2nya yg sebanding dengan mu sore ini
yang menjadi nafasku meski ia diam atau menghambur
dan memperlihatkan dirinya menjadi pucuk2 daun
betapa perasaan ini adalah tangan yang meremas hati ku keras2
sampai remuk dan berjatuhan ditubuh impian yg selalu ku pungut lagi
nyaris seperti daun-daun jatuh di pagi hari.
*karya Mrd
refleksi 5 desember 2009
Arms Race and the Development of Nuclear Weapons Technology
Arms Race phenomenon begins to color the dynamics of politics among nations in an era called Cold War. At that time, for the interest of 2 superpower countries, the United States and Soviet Union try to spread their influence by making regional block. Each power tries to support military needs in each allied countries. History told us that the establishment of the Defense Pact like NATO (North Atlantic Treaty Organization) and Warsaw Pact are the media to achieve both superpower countries interest that cause conflict by proxy between countries that include in United States and Soviet alliances.
Mahameru (26 Oktober 2009)

sedikit tentang marxisme dalam studi HI
a short essay
- Reasonable prize
- In bargaining, we learn how to communicate with others and improve our brotherhood based on a direct face-to-face meeting.
- Knowing our national products like handicraft, special food or snack and the like
- Learning how to be hospitable and friendly with other because friendliness is one of our ntional characteristics.
Tetaplah Melukis
Cinderamata sore ini
menjadi tenang..
entah satu karena bahasa takdir atau ketika salah satu menaklukan yg lain
dan begitu lah kita manisku
setiap persinggungan ternyata bukan kebutuhan akan kesatuan
yang akan menghapus keindahan itu sendiri
abadilah engkau gairah ombak,
krn kita tidak saling mengikis
ada dan tetaplah ada wahai kau yang disebut pantai
berakarlah dalam ingatan
tentang keindahan agar tetap bisa mereka nikmati
juni '09
Huruf,Sahabat,Kawan.
huruf-huruf yang selalu ada
karena malam ini tak kutemui hukum baru
untuk memaksamu percaya
engkau bisa berdiri seperti layaknya deretan angka
lalu memihak pada ku
sore tadi kupasung tanganku
agar ia tak lancang menulis
maaf bila kau harus pupus malam ini
kau tidak untuk tinta
tidak saat ini
tidak ada persekutuan kisah bagi kalian !!
jangan menebak
kau terlalu kecil untuk bersanding dengan tiap getar jantungku
juga mataku
kau bisa berkawan dengan mataku
karena ia begitu sempit
patuh pada hukum lama
kesamar-samaran ini
kemenanganku dan dirinya
kami hendak diam saja
diam yang menggetarkan niat tangan seorang pelukis realis
pun dawai gitar harus malu membisu,datar,
seperti candu yang selalu kau berikan juga padaku
kau menuntunku merasa bahwa kita dipersatukan hanya oleh kesedihan
kau salah sahabat.
kau harus salah.
malam ini aku juga membekalimu,
kelak kau sendiri yang akan menikmati kekalahan ku
dan akan kau hujam seperti anak haram dari keindahan yang kau pernah tetapkan.
tunggu dan bayangkanlah gelak tawa kesenangan yang akan kau jemput sendiri
nanti di hari kemenangan,
aku mau menyebutnya begitu,
kalian menurunkan jasad ku;kawan dan sabahatku.
yang terhunus angkuh
biar sekat persinggahan yang berdakwah,
lalu kau bebas bergerak sahabatku;
huruf-hurufku yg hari ini kutinggalkan.
august'09.
Ganti Rezim, Ganti Tim Ekonomi ?
Sejak kemerdekaan Indonesia, persoalan kemiskinan, ketimpangan, HAM,dsb seolah tetap menjadi warna dominan dalam kehidupan bangsa. Tulisan ini coba memetakan konflik kepentingan yang terjadi di tingkatan lembaga pemerintah sehingga berujung pada dikeluarkannya produk kebijakan yang tidak sesuai dengan amanat konstitusi. Produk kebijakan yang dimaksud adalah seluruh kebijakan-kebijakan ekonomi baik di tingkatan nasional maupun kebijakan di tingkatan sistem ekonomi politik internasional yang notabene juga akan berimbas ke situasi domestik.
Pemilihan atas telaah ekonomi didasarkan pada pengamatan penulis bahwa perubahan cabinet maupun rezim di Indonesia ternyata tidak berdampak pada perubahan orientasi tim ekonomi nasional. Perubahan rezim yang terjadi pada era 1965, 1998, 2004, hingga 2009 mendatang belum mampu menggantikan arah kebijakan ekonomi yang diorientasikan oleh tim ekonomi. Hampir dapat dikatakan bahwa arah kebijakan dari tim-tim ekonomi Indonesia dari waktu ke waktu justru semakin jauh dari semangat nasionalisme yang sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Akibatnya persoalan pembangunan ekonomi yang menekankan aspek pemerataan untuk kesejahteraan rakyat masih menjadi sesuatu yang kabur.
Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan apakah memang orientasi kebijakan ekonomi yang pro ekonomi pasar neoliberal menjadi suatu tahap alamiah ataupun terlahir dari pertimbangan rasional (pilihan sadar) atas kondisi ekonomi politik Indonesia ? Atau justru ada banyak kepentingan yang bermain didalamnya sehingga tim-tim ekonomi dan pemerintah harus mengorbankan kesejahteraan rakyat ?
Revrison Baswir dalam bukunya Mafia Berkeley memetakan kelompok-kelompok tim ekonomi nasional kedalam tiga kelompok yaitu Kelompok Nasionalis Neoliberal, Kelompok Nasionalis Populis, dan Kelompok Anti Nasionalis. Di konteks kebijakan ekonomi internasional :
· Kelompok Nasionalis Populis menekankan pentingnya kemandirian ekonomi, artinya bahwa Indonesia tidak membuat sekat dalam wilayah pergaulan ekonomi internasional tetapi semuanya harus dilakukan dengan menempatkan Indonesia sebagai sebuah Negara merdeka. Keterlibatan dalam pergaulan ekonomi dunia (yang dapat digeneralisir menjadi adanya kecendrungan kearah neoliberalisme ekonomi terlebih pasca Perang Dingin) akan dilakukan jika sejalan dengan kepentingan seluruh rakyat. Beberapa nama yang termasuk kedalam kelompok ini ialah Prof.Mubyarto, Kwik Kian Gie, Sritua Arief,Sri Edi Swasono, dan Rizal Ramli (tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit).
· Kelompok Nasionalis Neoliberal dan Kelompok Anti Nasionalis memiliki pemahaman yang sama dalam hal terciptanya koordinasi dan keseragaman landasan ekonomi Negara-negara dunia sebagai prasayarat bagi kemakmuran nasional. Namun kelompok Nasionalis Neoliberal kurang menonjol dalah hal wacana mengenai nasionalisme ekonomi. Kelompok ini cenderung berkonsentrasi pada permainan saham di bursa.
· Kelompok anti Nasionalis lebih menekankan pentingnya kebebasan individu sehingga nasionalisme ekonomi dipandang sebagai penghambat bagi kemajuan bangsa. Kelompok ini pada masa Orde Baru dikenal dengan istilah Mafia Berkeley dan saat ini dikenal dengan Mafia Ekonomi Orde Baru. Beberapa nama yang termasuk dalam kelompok ini adalah Emil Salim, Mohamad Sadli, Frans Seda, Dorodjatun Kuncorojakti, Boediono, dan Sri Mulyani. Istilah Mafia Berkeley dan Mafia Ekonomi Orde Baru secara substantive dapat didefinisikan sebagai sekelompok ekonom Indonesia yang dibina oleh pemerintah AS (melalui lembaga pendidikan seperti Universitas California di Berkeley, Harvard University, dsb)untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke jalan ekonomi pasar neoliberal.
Setelah kita cukup memahami kategorisasi dalam hal asumsi dasar dari kelompok-kelompok ekonomi nasional, maka yang akan kita lakukan berikutnya ialah mencoba melihat kelompok mana yang lebih banyak terlibat dalam pembuatan kebijakan ekonomi nasional. Analisis dapat dilakukan dengan menguraikan produk-produk kebijakan ekonomi makro yang dibuat dalam masa rezim tertentu. Setelah itu mencari tahu siapa saja yang tergabung dalam tim ekonomi saat itu. Person-person yang tergabung dalam tim ekonomi tentunya merupakan salah satu wakil dari ketiga kelompok diatas yang terlibat secara langsung dan dalam proporsi yang besar dalam perumusan kebijakan.
A. Transisi Orde Lama - Era Orde Baru – Era transisi reformasi BJ Habibie
Transisi dari orde lama ke orde baru memang masih menimbulkan perdebatan hingga saat ini. Namun ini tidak berarti bahwa kita tidak mampu melakukan analisis. Transisi terjadi di saat situasi politik internasional berada dalam kondisi perang dingin dengan ciri pokok adanya dikotomi ideologis. Indonesia pada era Soekarno dapat dikategorikan sebagai Negara yang cenderung pro pada blok komunis. Secara singkat saja, belakangan ini banyak dihasilkan temuan-temuan ataupun bukti sejarah yang menjelaskan bahwa terdapat keterlibatan AS dalam transisi rezim Orla ke Orba.
Alhasil setelah kenaikan Soeharto beberpa kebijakan yang pro neoliberalisme ekonomi langsung mewarnai kebijakan nasional dan kebijakan internasional. Pada saat itu arsitek ekonomi Indonesia dikomandoi oleh Frans Seda dan Emil Salim. Fakta yang mendukung diakuinya eksistensi Mafia Berkeley pada waktu itu ialah bahwa pada masa awal Orde Baru, tim ekonomi juga mengklaim bahwa melalui bantuan IMF mereka mampu menekan inflasi dari sekitar 600 % pada tahun 1966 menjadi di bawah 10 %. Mereka juga mengklaim terlunasinya utang luar negeri dan mampu menggenjot masuknya investasi asing. Beberapa kebijakan di konteks domestic maupun internasional ialah tergabungnya Indonesia dalam GATT,IMF,dan WB serta di konteks domestic diberlakukan UU PMA yang menghasilkan boom investasi (salah satunya ialah masuknya PT Freeport Indonesia).
Di masa orde baru kekuatan antara Mafia Berkeley dan Birokrat Rezim didukung oleh adanya kondisi social politik pada masa itu. Pertama,Orde Baru berhasil melakukan desukarnoisasi dan pemberantasan sisa-sisa budaya politik Orde Lama. Hegemoni di ruang kesadaran masyarakat ini menghasilkan dukungan terhadap ideology pembangunanisme soeharto dan tentunya mafia Berkeley serta kapitalisme internasional. Kedua, Kebijakan sentralistik dan militeristik yang dijalankan oleh Soeharto berhasil mematikan perlawanan baik secara gagasan maupun praktek masyarakat khususnya mahasiswa dan Ketiga yaitu adanya dukungan besar kapitalisme internasional untuk membiayai proses pemulihan ekonomi Orde Baru
Jadi Mafia Berkeley berada di posisi yang sangat strategis pada era Orde Baru karena mendapat dukungan dari rezim dan juga dukungan eksternal. Akhirnya tugas Mafia Berkeley hanya tinggal menetapkan draft UU yang asumsinya menciptakan dan mendukung iklim pasar bebas.
Namun momentum krisis 1998 mampu memotong pemahaman kuatnya ekonomi Soeharto dan di konteks internasional, Indonesia mulai mengakomodir masuknya lembaga-lembaga donor (IMF dan WB) untuk membantu Indonesia keluar dari krisis dengan resep LoI yang ditawarkan.
B. Transisi (Era Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri)
Era Abdurahman Wahid memang sempat membuat restrukturisasi tim ekonomi sehingga keberadaan Mafia Berkeley kurang mendapat tempat dalam pemerintahan. Lebih jauh dikatakan juga bahwa Gus Dur sempat berinisiatif untuk menciptakan blok ekonomi baru antara Indonesia, China, dan Israel. Namun perjuangan intraparlementer tentu sangat syarat politis pragmatis sehingga kita semua harus menyaksikan digulingkannya salah seorang pemimpin cerdas dan populis tersebut.
Era megawati sering dijuluki sebagi era diberikannya karpet merah bagi investor asing. Kebijakan Megawati lebih outward looking disbanding dengan kebijakan ekonomi Orba. Para pejabat KGR di bidang ekonomi antara lain Theo F Tumion (BKPM), Rini MS Suwandi (Mentri Perindustrian), Laksamana Sukardi (Meneg BUMN) kesemuanya mengajukan draft yang berisi tax holiday, promoting investment, dan privatisasi BUMN. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Presiden Megawati pada waktu itu : “saya siap untuk melakukan kebijakan yang tidak nasionalis dan tidak populis, karena kesemuanya bersifat konstruktif jangka panjang”. Era Megawati juga ditandai dengan ledakan privatisasi BUMN serta keberlanjutan ketelibatan IMF melalui Post Monitoring Program hingga tahun 2007.
C. Era SBY
Akhir tahun 2008, ketika krisis finansial yang terjadi di Amerika mencapai titik klimaks yaitu ditandai dengan deklarasi bangkrut sejumlah perusahaan investasi global, beberapa Negara mulai melakukan proteksi dan pemberian bailout serta pengalihan investasi ke luar region bagi stabilnya ekonomi riil. Yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, Tim Penanggulangan Krisis yang dibentuk oleh rezim SBY-JK yang terdiri dari Sri Mulyani dan Boediono melakukan kebijakan yang lagi-lagi pro terhadap investasi asing. Pemerintah justru melakukan peningkatan suku bunga BI dan melakukan pembelian kembali sahah (buyback).
Era SBY juga ditandai dengan penghapusan subsidi BBM karena asumsi yang dipakai oleh arsitek ekonomi (khususnya Mentri Keuangan Sri Mulyani) ialah bahwa pemerintah harus mampu menekan deficit anggaran dengan menghapus subsidi kebutuhan social masyarakat. Kejanggalan bernuansa politis juga ditemui melalui kejadian diberikannya BLT kenaikan BBM dan penurunan harga BBM yang berdekatan dengan waktu pemilu legislative diselenggarakan. Dengan gambaran situasi seperti ini, menjadi mudah untuk dipetakan bahwa terdapat keselarasan kepentingan antara SBY dengan arsitek ekonominya yaitu kelanggengan kekuasaan. Kepentingan ini pun kemudian dicapai dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Rakyat yang perutnya kosong disuguhi dengan makanan politik pembodohan.
Gebrakan terbaru yang dibuat oleh SBY dan arsitek ekonominya ialah kebijakan Utang Luar Negeri baru yang diupayakan dalam pertemuan forum G20 di London pada bulan April 2009.
Bagi para ekonom Mafia Berkeley,keberadaan kapitalisme internasional baik dalam bentuk lembaga donor internasional maupun investor asing disini sangat dibutuhkan sebagai tameng untuk mempertahankan posisi mereka di lingkaran kekuasaan. Tanpa dukungan dari kapitalisme internasional, para ekonom Mafia Berkeley tidak hanya akan kehilangan mandor tetapi juga akan kehilangan kekuatan yang mampu meyakinkan pemerintah bahwa posisi mereka di lingkaran kekuasaan perlu dipertahankan.
Referensi :
Revrisond Baswir, Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia, 2006, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sritua Arif, Negeri Terjajah – Menyingkap Ilusi Kemerdekaan, 2006, Yogyakarta : Resist Book
Kompas Cetak 3 April 2009 diakses dari www.kcm.com
ada ; cahaya
dimana aku mengharapkan engkau mencegahku,
entah untuk pergi
atau sekedar berdiri pada satu titik
dalam jarak yang menghubungkan antara...
ah...kau lebih tau
apa sebutan yang tepat untuk jarak itu
pada satu titik
dimana kemunafikan seolah menjadi udara segar
menyisakan kekalahan seorang petarung
dengan hukuman menapaki senyum anggunmu
yang bersajak tentang keangkuhan, kemenangan,
juga ketidakberdayaan
tetapi suatu kekuatan
daya tak ternalar
kuasa atas awal dan akhirku
menyihirku
untuk menjadi pelukis
diatas kanvas ketidakpastian
dan kau ?
ada;cahaya.
(mei'09)
Kisah Malam Natal seorang Pemuda dan Malaikat Pelindungnya
“Bila iman adalah suatu komitmen kepada Allah dan umat manusia,maka mustahil keberimanan kita pada hari ini mengabaikan komitmen kepada proses pembebasan umat manusia; dari segala kemiskinan dan penindasan”
(Gustavo Gutierrez dalam Alfred T. Hannelly,1995:11)
Kisah Malam Natal seorang Pemuda dan Malaikat Pelindungnya
Alkisah hiduplah seorang pemuda yang hari ini tepat berusia 30 tahun. Pemuda itu hidup dengan kondisi yang cukup mapan. Ia bekerja sebagai seorang direktur, mempunyai rumah mewah di berbagai
Pada malam ini, setelah usai dari perayaan ulang tahunnya, ia segera bergegas untuk pulang karena merasa sangat lelah. Akhirnya ia pun mulai tertidur dan bermimpi.
Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan malaikat pelindungnya dan malaikat itu berbicara dengannya,
“Ikutlah dengan ku, ada banyak hal yang harus kamu lihat”
“akan kau bawa kemanakah aku ?” jawab si pemuda
Malaikat itu tidak menjawab dan mulai merangkul tangan pemuda itu, dan secepat kilat mereka terbang menuju suatu tempat.
Tempat itu adalah sebuah tempat gelap dengan tumpukan kardus dan beberapa kain kotor berceceran.
“Tempat apai ini ?” Tanya si pemuda kepada Malaikat.
Namun malaikat itu hanya diam seolah tidak mendegar pertanyaan pemuda itu.
Setelah beberapa saat, mengertilah pemuda itu bahwa yang dilihatnya sebenarnya ialah tempat tinggal sebuah keluarga. Tapi bagaimana mungkin, bagaimana mungkin tempat ini bisa disebut sebagai tempat tinggal ? Kenapa mereka tidak memilih untuk tinggal di rumah yang nyaman ? Agar sesosok anak kecil yang berada di hadapannya saat itu tidak merasakan kedinginan..
Sementara ia tenggelam bersama pertanyaan-pertanyaannya, Malaikat itu kemudian menarik tangannya dan mereka kembali terbang melintasi sekumpulan awan di malam itu, malam natal.
Kali ini mereka tiba di suatu tempat yang hampir setiap hari ia lewati. Sebuah perempatan di pusat
“Apa yang kau inginkan dari ku ?” Tanya Pemuda kepada malaikat
“Lihat dan kelak kau akan mengerti” jawab Malaikat
Lalu pemuda itu melemparkan pandangannya pada beberapa anak kecil yang sepertinya sedang bertengkar di trotoar. Ia pun mulai mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sekawanan anak itu.
Ternyata anak-anak itu sedang bertengkar memperebutkan wilayah lahan ngamen . Pertengkaran itu berlanjut hingga berujung pada perkelahian fisik.
Pemuda itu berteriak, “Hey…Berhenti !!” Tetapi percuma, anak-anak itu tidak mendengar teriakannya. Ia pun memutuskan untuk melerai perkelahian itu. Tetapi usahanya juga sia-sia karena tangannya tidak mampu menyentuh anak-anak itu. Ia berada di alam mimpi.
“Kenapa kau membiarkan mereka bertengkar ? Kenapa anak-anak itu harus memikirkan apa yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka pikirkan ? Kemana orang tua mereka ? Kalaupun mereka yatim piatu, kenapa tidak langsung saja ke panti asuhan ?” Pemuda itu berteriak kepada Malaikat pelindungnya
Malaikat itu hanya membalas teriakan si pemuda dengan satu senyuman kecil dan seperti sebelumnya, ketika sang pemuda mulai berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, malaikat itu dengan cepat menarik tanggannya dan terbang lagi ke suatu tempat.
Kali ini tempat yang dilihatnya ialah sebuah gedung tinggi seperti sebuah benteng. Lalu mengertilah ia bahwa tempat itu adalah sebuah penjara di
Ternyata mereka adalah pejabat daerah di tempat ia tinggal. Beberapa bulan terakhir memang terdengar kabar di media bahwa beberapa birokrat sedang terlibat skandal korupsi.
Tentu saja ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya barusan. Ia menoleh ke malaikat,
“Bagaimana mungkin orang-orang itu masih tetap mapan dengan sekian kejahatan yang telah mereka lakukan ?”
Malaikat itu hanya diam membisu.
Pemuda itu pun bertanya untuk kedua kali hingga kesekian kalinya dan malaikat itu masih tetap membisu sambil sesekali mengangkat kedua alis matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia menghendaki agar pemuda itu berpikir sendiri.
Pemuda itu pun terdiam dan pada saat yang bersamaan pikirannya tertuju pada apa yang dilihat sebelumnya, rumah dari tumpukan kardus dan perkelahian anak jalanan.
Tak terasa ia pun mulai meneteskan air mata. Ia berpikir bahwa betapa hidup ini seolah tidak adil bagi sebagian orang.Betapa inginnya ia merubah keadaan ini. Ya, betapa inginnya ia merubah situasi ini.
Malaikat pun datang mendekat ke arahnya dan mulai menghapus air mata pemuda itu.
“aku ingin sekali merubah semuanya menjadi baik, aku harus merubahnya ! Tetapi itu mustahil, aku tidak mungkin bias membantu beribu-ribu orang, dan lagi pula waktu luang ku tidak cukup banyak untuk memikirkan hal ini. Pekerjaanku selalu menunggu untuk ku selesaikan. Bukan kah pemerintah yang harus bertanggung jawab atas sekian fenomena ketimpangan ini ? Ya pemerintah lah yang mampu !” kata pemuda itu kepada malaikat dengan suara serak.
Baru beberapa detik ia berbicara, ia pun mulai tersadar bahwa betapa sejarah bangsanya membuktikan bahwa belum ada elit birokrat yang cukup konsisten dengan penuntasan kemiskinan dan ketimpangan. Ia pun mulai berkata lagi pada malaikat pelindungnya,
“Tuhan. Ya Hanya Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu menyelesaikan kebobrokan ini dengan cepat. Apakah kau tahu kenapa Tuhan yang begitu Maha Kuasa membiarkan fenomena ini terjadi di bangsa ku, umat Nya yang tertulis sangat dikasihi Nya ?? Kenapa Tuhan ?? Dan kau, Mengapa kau hanya diam saja, Apa kah kau pun tega melihat ini semua sama seperti Tuhan ??”
Malaikat itu tidak menjawab dan langsung menarik tangan pemuda itu lalu secepat kilat mereka telah tiba kembali di kamar tidur pemuda itu.
Pemuda itu masih saja berteriak dan bertanya kepada malaikat, “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi, Kenapa Tuhan tidak merubah keadaan ini ?”
Malaikat itu akhirnya menatap mata sang pemuda dan mulai berbicara dalam suara yang menggema :
“TUHAN TELAH MENGUBAHNYA LEWAT MENCIPTAKAN MU”
“TUHAN TELAH MENGUBAHNYA LEWAT MENCIPTAKAN MU”
Dan sekejap pemuda itu pun kembali tertidur.
Keesokan hari gema suara ini lah yang selalu terngiang di telinga sang pemuda, selama ia berkarya.
Kawan-Kawan pembaca yang dimuliakan dalam Tuhan, situasi yang terkandung dalam cerpen diatas sebenarnya merupakan sedikit gambaran dari situasi yang tengah di hadapi oleh bangsa ini. Fenomana kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan, kejahatan para elit, hingga sekian permaslahan kompleks lainnya tengah mewarnai kehidupan
Sama seperti si pemuda, pada dasarnya kita selalu mempunyai harapan di dalam hati kita. Harapan untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik bagi sesama. Karena Manusia diciptakan Allah dengan citra baik.
Tapi sama seperti si pemuda, kita terkadang menyerah dengan asumsi keterbatasan yang kita miliki dan perbandingannya atas sekian kerumitan dalam permasalahan yang tengah kita hadapi. Lalu praktis kemudia kita berpikir bahwa hanya Tuhan lah yang dapat dengan mudah melakukan perubahan, melakukan apa yang kita harapkan yaitu di mana semuanya bisa menjadi lebih baik.
Ketika perubahan tidak terjadi, maka kita
Persis seperti apa yang dialami pemuda itu dalam perjumpaannya dengan malaikat pelindungnya, gema suara malaikat itu juga kerap kali terdengar dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Kita disadarkan bahwa perubahan dan kuasa lah akan terwujud dalam karya nyata kita. Tetapi tidak terhitung beberapa kali kita mengabaikannya karena memang situasi hari ini telah menjadikan kita sebagai manusia yang pragmatis.
Namun pernahkah kita sejenak mengamati bahwa setiap perubahan besar di manapun selalu diawali dengan perubahan kecil ?
Situasi hari ini memang telah menciptakan suatu paradigma yang membentengi sekian ruang kesadaran kita. Melalui asumsi utopis yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai globalisasi, terjadi ketimpangan ekonomi politik serta clash of cultural values yang kesemuanya sampai hari ini masih saya yakini merupakan bentuk dominasi atas Negara berkembang. Sulit untuk menghindarkan diri dari homogenisasi baik secara ideologis maupun praksis. Akibatnya ruang-ruang kesadaran yang secara formal dihasilkan dalam institusi social (lembaga pendidikan,media
Seorang Antonio Gramsci, Flisuf Politik terkemuka yang berasal dari Italia pernah mengungkapkan bahwa untuk mencounter apa yang dinamakan hegemoni atau mungkin dalam istilah yang lain merupakan sebab dari sekian ketimpangan yang terjadi hari ini, perlu diciptakan suatu blok historis baru. Mereka yang mampu menciptakan blok sebagai counter atas hegemoni ini adalah mereka yang disebut sebagai intelektual organic. Intelektual bukan dalam pengertian akademis tetapi kumpulan orang-orang yang terlahir dan berkembang dari pengenalan mereka atas situasi dan kondisi masyarakat yang melahirkan suatu kemampuan untuk menyikapi situasi dengan keberpihakkan pada masyarakat.
Di petakan dalam suasana
Semoga tulisan singkat ini mampu dimaknai oleh teman-teman pembaca untuk kemudian dapat diteruskan kedalam diskusi dan aksi. Selamat Natal dan Tahun Baru.Terima Kasih.
“If faith is a commitment to God and to human beings, it is not possible to believe in today’s world without a commitment to the process of liberation”
