Teman Tidur.

|
“Teach me how to dream...help me make a wish...If I wish for you, will you make my wish come true...” 

Perlahan dengan satu tangan, aku meraih radio kecil itu. Aku tidak butuh bentuk kehadiran apapun dalam momen-momen seperti ini. Lagipula, aku hanya tidak ingin visi dan dedikasi hidupku padamu tegoyahkan hanya oleh lagu klasik dengan lirik pop murahan ala Robbie Mc Auley. Aku menekan tombol off lalu meletakkannya lagi ditempat semula, diatas meja.

Aku membetulkan posisi badan dan lengan ku, kembali kunikmati dalam pandang tiap jengkal teduh wajahmu meski setengah kesadaranku masih tertinggal bersama lirik lagu tadi. Memang aneh rasanya jika ritual rutin antara kau dan aku malam ini harus terganggu hanya oleh lirik. Mematikan radio adalah pilihan yang tepat bukan ?



Radio ?! aku tak percaya benda sederhana yang kubeli dari tabungan rinduku padamu ini masih tampak awet muda. Sebuah radio mungil yang sempat jadi alasan paling logis agar aku bisa berkunjung ke kotamu waktu itu, kini membuatku tersenyum sendiri. Mungkin senyum ku saat ini tak jauh beda dengan senyum teman-temanku dulu, saat kukatakan aku ingin ke luar kota mengantar sebuah radio. Membayangkan kalian semua teman, aku spontan tertawa kecil hingga tak sempat kupikirkan bantal tidurmu (baca:dada ku) pasti bergoncang.

“Ssst......” gumam mu dalam kelelahan. 


Aku ingin juga bersamamu dalam dunia dimana bening matamu kau benamkan. Aku ingin setidaknya kau ada dalam jarak pandangku. Melihat kau yang pasti sedang bermain-main, seperti yang selalu kau bilang saat aku terkesan mulai ‘serius’. 


Selagi kau lelap, izinkan aku memberikan sedikit presentasi tentang permainan. Kau ingin aku menjabarkan main-main ? Baiklah. Aku pernah juga menjadi seorang anak laki-laki kecil yang asik mengejar layang-layang atau sibuk menggulingkan ban sepeda motor bekas dengan sepotong kayu pada tanganku. Pernah juga aku mengejar kupu-kupu di padang rumput atau merasakan bumi berputar dan perut bergoncang saat berada di atas ayunan.

Bagian main-main seperti apa lagi yang ingin kau dengar dari ku ? Akh… rasanya ingin aku membangunkanmu, agar kita bisa saling berargumen. Tapi buat apa ? Aku yakin suatu malam nanti penjelasan singkatku mampu menjangkau alam tidurmu.


Pagi pun turun. Seperti terang yang membuka tabir kegelapan, seperti itu jugalah kejujuran harus lahir dari ketidakmampuan kau menjelaskan ‘main-main’ itu. Pelan – pelan kau mengusap-usap mata, melihat kearah meja. Mengambil handphone. Menjadi resmi lah pagi mu dan pagi dia dimulai, bukan ?


Pada siapa yang berkuasa diatas sana, aku hanya ingin minta waktu, layaknya anak kecil yang menarik selimut di pagi hari, lalu mengemis meminta lima menit pada siapa yang membangunkannya. Aku lah selimut dikamarnya, yang biasa dia pakai menutup wajah saat ia merasa ada hantu di balik jendela. Aku lah radio yang menjaga handphonenya ! Lima menit saja aku ingin ia tidur lebih lama ! Lima menit saja biarkan dia terus bermain lagi dalam lelap, dengan.... Dengan nama yang tak sadar ia ucapkan tadi malam.

Kini basuhlah wajahmu dengan air segar. Selamat pagi, kamu.

-Yogya, Juni 2011-




PS. Tulisan ini adalah interpretasi saya atas lagu yang diciptakan oleh seorang sahabat, Aldian Fachrobby. Saya lampirkan juga lirik otentik nya, ditulis di tissue :)

0 comments:

Post a Comment