Kisah Malam Natal seorang Pemuda dan Malaikat Pelindungnya

|

“Bila iman adalah suatu komitmen kepada Allah dan umat manusia,maka mustahil keberimanan kita pada hari ini mengabaikan komitmen kepada proses pembebasan umat manusia; dari segala kemiskinan dan penindasan”

(Gustavo Gutierrez dalam Alfred T. Hannelly,1995:11)

Kisah Malam Natal seorang Pemuda dan Malaikat Pelindungnya

Alkisah hiduplah seorang pemuda yang hari ini tepat berusia 30 tahun. Pemuda itu hidup dengan kondisi yang cukup mapan. Ia bekerja sebagai seorang direktur, mempunyai rumah mewah di berbagai kota, menjadi sosok idola para wanita, dan segala impiannya hampir semua telah terpenuhi.

Pada malam ini, setelah usai dari perayaan ulang tahunnya, ia segera bergegas untuk pulang karena merasa sangat lelah. Akhirnya ia pun mulai tertidur dan bermimpi.

Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan malaikat pelindungnya dan malaikat itu berbicara dengannya,

“Ikutlah dengan ku, ada banyak hal yang harus kamu lihat”

“akan kau bawa kemanakah aku ?” jawab si pemuda

Malaikat itu tidak menjawab dan mulai merangkul tangan pemuda itu, dan secepat kilat mereka terbang menuju suatu tempat.

Tempat itu adalah sebuah tempat gelap dengan tumpukan kardus dan beberapa kain kotor berceceran. Ada tumpukan sampah plastic dan rongsokan besi karat di dekatnya.

“Tempat apai ini ?” Tanya si pemuda kepada Malaikat.

Namun malaikat itu hanya diam seolah tidak mendegar pertanyaan pemuda itu.

Setelah beberapa saat, mengertilah pemuda itu bahwa yang dilihatnya sebenarnya ialah tempat tinggal sebuah keluarga. Tapi bagaimana mungkin, bagaimana mungkin tempat ini bisa disebut sebagai tempat tinggal ? Kenapa mereka tidak memilih untuk tinggal di rumah yang nyaman ? Agar sesosok anak kecil yang berada di hadapannya saat itu tidak merasakan kedinginan..

Sementara ia tenggelam bersama pertanyaan-pertanyaannya, Malaikat itu kemudian menarik tangannya dan mereka kembali terbang melintasi sekumpulan awan di malam itu, malam natal.

Kali ini mereka tiba di suatu tempat yang hampir setiap hari ia lewati. Sebuah perempatan di pusat kota.

“Apa yang kau inginkan dari ku ?” Tanya Pemuda kepada malaikat

“Lihat dan kelak kau akan mengerti” jawab Malaikat

Lalu pemuda itu melemparkan pandangannya pada beberapa anak kecil yang sepertinya sedang bertengkar di trotoar. Ia pun mulai mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sekawanan anak itu.

Ternyata anak-anak itu sedang bertengkar memperebutkan wilayah lahan ngamen . Pertengkaran itu berlanjut hingga berujung pada perkelahian fisik.

Pemuda itu berteriak, “Hey…Berhenti !!” Tetapi percuma, anak-anak itu tidak mendengar teriakannya. Ia pun memutuskan untuk melerai perkelahian itu. Tetapi usahanya juga sia-sia karena tangannya tidak mampu menyentuh anak-anak itu. Ia berada di alam mimpi.

“Kenapa kau membiarkan mereka bertengkar ? Kenapa anak-anak itu harus memikirkan apa yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka pikirkan ? Kemana orang tua mereka ? Kalaupun mereka yatim piatu, kenapa tidak langsung saja ke panti asuhan ?” Pemuda itu berteriak kepada Malaikat pelindungnya

Malaikat itu hanya membalas teriakan si pemuda dengan satu senyuman kecil dan seperti sebelumnya, ketika sang pemuda mulai berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, malaikat itu dengan cepat menarik tanggannya dan terbang lagi ke suatu tempat.

Kali ini tempat yang dilihatnya ialah sebuah gedung tinggi seperti sebuah benteng. Lalu mengertilah ia bahwa tempat itu adalah sebuah penjara di kota nya. Ia pun mulai mengamati setiap sudut penjara itu dan tiba-tiba matanya terhenti pada beberapa orang yang terlihat berbeda dari para narapidana yang lain. Orang-orang itu berpakaian rapi dan ruangan mereka terlihat bersih dan dilengkapi dengan beberapa peralatan elektronik. Ia pun mulai heran dan memutuskan untuk mendekat ke arah orang-orang tersebut. Dan ia pun terkejut. Wajah orang-orang itu seolah tidak asing bagi pemuda itu.

Ternyata mereka adalah pejabat daerah di tempat ia tinggal. Beberapa bulan terakhir memang terdengar kabar di media bahwa beberapa birokrat sedang terlibat skandal korupsi.

Tentu saja ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya barusan. Ia menoleh ke malaikat,

“Bagaimana mungkin orang-orang itu masih tetap mapan dengan sekian kejahatan yang telah mereka lakukan ?”

Malaikat itu hanya diam membisu.

Pemuda itu pun bertanya untuk kedua kali hingga kesekian kalinya dan malaikat itu masih tetap membisu sambil sesekali mengangkat kedua alis matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia menghendaki agar pemuda itu berpikir sendiri.

Pemuda itu pun terdiam dan pada saat yang bersamaan pikirannya tertuju pada apa yang dilihat sebelumnya, rumah dari tumpukan kardus dan perkelahian anak jalanan.

Tak terasa ia pun mulai meneteskan air mata. Ia berpikir bahwa betapa hidup ini seolah tidak adil bagi sebagian orang.Betapa inginnya ia merubah keadaan ini. Ya, betapa inginnya ia merubah situasi ini.

Malaikat pun datang mendekat ke arahnya dan mulai menghapus air mata pemuda itu.

“aku ingin sekali merubah semuanya menjadi baik, aku harus merubahnya ! Tetapi itu mustahil, aku tidak mungkin bias membantu beribu-ribu orang, dan lagi pula waktu luang ku tidak cukup banyak untuk memikirkan hal ini. Pekerjaanku selalu menunggu untuk ku selesaikan. Bukan kah pemerintah yang harus bertanggung jawab atas sekian fenomena ketimpangan ini ? Ya pemerintah lah yang mampu !” kata pemuda itu kepada malaikat dengan suara serak.

Baru beberapa detik ia berbicara, ia pun mulai tersadar bahwa betapa sejarah bangsanya membuktikan bahwa belum ada elit birokrat yang cukup konsisten dengan penuntasan kemiskinan dan ketimpangan. Ia pun mulai berkata lagi pada malaikat pelindungnya,

“Tuhan. Ya Hanya Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu menyelesaikan kebobrokan ini dengan cepat. Apakah kau tahu kenapa Tuhan yang begitu Maha Kuasa membiarkan fenomena ini terjadi di bangsa ku, umat Nya yang tertulis sangat dikasihi Nya ?? Kenapa Tuhan ?? Dan kau, Mengapa kau hanya diam saja, Apa kah kau pun tega melihat ini semua sama seperti Tuhan ??”

Malaikat itu tidak menjawab dan langsung menarik tangan pemuda itu lalu secepat kilat mereka telah tiba kembali di kamar tidur pemuda itu.

Pemuda itu masih saja berteriak dan bertanya kepada malaikat, “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi, Kenapa Tuhan tidak merubah keadaan ini ?”

Malaikat itu akhirnya menatap mata sang pemuda dan mulai berbicara dalam suara yang menggema :

“TUHAN TELAH MENGUBAHNYA LEWAT MENCIPTAKAN MU”

“TUHAN TELAH MENGUBAHNYA LEWAT MENCIPTAKAN MU”

Dan sekejap pemuda itu pun kembali tertidur.

Keesokan hari gema suara ini lah yang selalu terngiang di telinga sang pemuda, selama ia berkarya.

Kawan-Kawan pembaca yang dimuliakan dalam Tuhan, situasi yang terkandung dalam cerpen diatas sebenarnya merupakan sedikit gambaran dari situasi yang tengah di hadapi oleh bangsa ini. Fenomana kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan, kejahatan para elit, hingga sekian permaslahan kompleks lainnya tengah mewarnai kehidupan Indonesia hari ini.

Sama seperti si pemuda, pada dasarnya kita selalu mempunyai harapan di dalam hati kita. Harapan untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik bagi sesama. Karena Manusia diciptakan Allah dengan citra baik.

Tapi sama seperti si pemuda, kita terkadang menyerah dengan asumsi keterbatasan yang kita miliki dan perbandingannya atas sekian kerumitan dalam permasalahan yang tengah kita hadapi. Lalu praktis kemudia kita berpikir bahwa hanya Tuhan lah yang dapat dengan mudah melakukan perubahan, melakukan apa yang kita harapkan yaitu di mana semuanya bisa menjadi lebih baik.

Ketika perubahan tidak terjadi, maka kita kan dengan mudah pula melemparkan keslahan ataupun penyebab dari semua ini kepada Tuhan. Bahwa Tuhan lah yang sepenuhnya harus bertanggung jawab atas semua permasalahan ini. Kita seolah menjadi seorang guru dan menempatkan Tuhan sebagai murid.

Persis seperti apa yang dialami pemuda itu dalam perjumpaannya dengan malaikat pelindungnya, gema suara malaikat itu juga kerap kali terdengar dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Kita disadarkan bahwa perubahan dan kuasa lah akan terwujud dalam karya nyata kita. Tetapi tidak terhitung beberapa kali kita mengabaikannya karena memang situasi hari ini telah menjadikan kita sebagai manusia yang pragmatis.

Namun pernahkah kita sejenak mengamati bahwa setiap perubahan besar di manapun selalu diawali dengan perubahan kecil ?

Situasi hari ini memang telah menciptakan suatu paradigma yang membentengi sekian ruang kesadaran kita. Melalui asumsi utopis yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai globalisasi, terjadi ketimpangan ekonomi politik serta clash of cultural values yang kesemuanya sampai hari ini masih saya yakini merupakan bentuk dominasi atas Negara berkembang. Sulit untuk menghindarkan diri dari homogenisasi baik secara ideologis maupun praksis. Akibatnya ruang-ruang kesadaran yang secara formal dihasilkan dalam institusi social (lembaga pendidikan,media massa,dll) akan dengan mudah direduksi oleh sekelompok pemodal yang bergerak dengan asumsi ekspansi dan akumulasi.

Seorang Antonio Gramsci, Flisuf Politik terkemuka yang berasal dari Italia pernah mengungkapkan bahwa untuk mencounter apa yang dinamakan hegemoni atau mungkin dalam istilah yang lain merupakan sebab dari sekian ketimpangan yang terjadi hari ini, perlu diciptakan suatu blok historis baru. Mereka yang mampu menciptakan blok sebagai counter atas hegemoni ini adalah mereka yang disebut sebagai intelektual organic. Intelektual bukan dalam pengertian akademis tetapi kumpulan orang-orang yang terlahir dan berkembang dari pengenalan mereka atas situasi dan kondisi masyarakat yang melahirkan suatu kemampuan untuk menyikapi situasi dengan keberpihakkan pada masyarakat.

Di petakan dalam suasana Natal yang tengah berlangsung dan mungkin sebentar lagi euphoria-euphoria ini akan surut, saya percaya bahwa gema suara malaikat akan tetap terdengar. Kutipan singkat di atas (Gustavo Guterez) saya rasa cukup dan bahkan sangat mendalam untuk menyimpulkan apa yang harus kita lakukan baik secara individu, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari prinsip “iman yang hidup”, maupun secara kolektif sebagai bentuk manifestasi dari identitas kita sebagai manusia yang ber-Tuhan dan terlebih ber-agama.

Semoga tulisan singkat ini mampu dimaknai oleh teman-teman pembaca untuk kemudian dapat diteruskan kedalam diskusi dan aksi. Selamat Natal dan Tahun Baru.Terima Kasih.

“If faith is a commitment to God and to human beings, it is not possible to believe in today’s world without a commitment to the process of liberation”


0 comments:

Post a Comment