the art of "ffhuuuhhh...."

|
                   
“hhhhmmmmmmm…” 


adalah ekspresi yang pantas untuk disandingkan dengan detik-detik setelah menyeruput secangkir kopi hangat. Seperti jeda kosong diantara playlist lagu pada pita kaset, menikmati segelas kopi disela ketidakpastian beruntun memang sangatlah sayang bila dilewatkan. Hembusan nafas seperti “ffhuuuhh…” yang keluar bersama gumpalan asap rokok juga merupakan momen yang jarang sekali bisa dibahasakan dengan sempurna.

Ini malam bersama seorang kawan,   saya ngobrol disebuah kedai kopi terkenal di Yogyakarta. Kopi Joss. Letaknya persis disebelah utara stasiun K.A Tugu. Kita berbincang banyak hal, mulai dari situasi politik, peluang wirausaha, buku atau film-film terbaru hingga ke topik-topik random lainnya.

Tidak banyak yang bisa saya tuliskan disini, namun satu hal yang menarik saat saya bercerita tentang keragu-raguan saya akan satu hal, dia meraih sendok pada gelas kopinya. Mengaduk-ngaduk kopi yang bisa dibilang sudah setengah dingin lalu menyisihkan satu gumpalan arang yang ada dalam gelas. Seperti seorang filsuf Athena, ia membakar batang rokok yang kesekian, dan berucap “fffuuuhhhh…”

existentialism. (part 2)

|

Sekarang bayangkan, bagaimana jika Pak Tua (Si Ayah) tadi hanya sendiri tanpa anak laki-lakinya, dan juga tanpa orang-orang dijalan yang menyaksikannya. Tentu saja Si Ayah akan menjadi subyek, yang bebas dan merdeka.


Adalah Jean Paul Sartre, salah seorang filsuf penganut eksistensialisme, yang mengatakan “Orang lain adalah neraka bagi diriku.” Karena anak laki-lakinya, Si Ayah menjadi tidak bebas untuk memperlakukan atau menaiki kudanya. Begitu juga kehadiran orang-orang lain yang memperhatikannya disepanjang jalan membuat Si Ayah menjadi tidak merdeka. Bahkan mereka (orang-rang lain tersebut) yang menjadi subyek, sedangkan si Ayah hanya sekedar obyek. Penderita. Dicaci-maki. Dibaweli.  Kebebasan dan kemerdekaan si Ayah pun terenggut oleh kehadiran orang lain.

existentialism.

|
Sabtu dini hari pukul 3.45 Waktu Indonesia Bagian Galau.




Saya akan mengawali entri ini dengan sebuah ilustrasi sederhana.
Pada suatu hari, seorang Ayah mengajak seorang anak laki-lakinya ke pasar ternak. Rencananya hari itu mereka akan membeli seekor kuda. Setibanya di pasar ternak, mereka pun menemukan salah satu kuda terbaik dan langsung membelinya. Untuk memastikan bahwa hewan yang baru saja dibeli itu benar-benar seekor kuda terbaik, maka dalam perjalanan pulang sang Ayah menyuruh Anak laki-laki nya itu untuk menunggangi kuda sementara Ayahnya akan menggiring tali sambil berjalan kaki. Anak laki-laki itu pun lantas naik ke punggung kuda dan ayahnya perlahan menarik tali yang terikat di leher kuda agar bergerak maju.

Apa yang terjadi ? Sepanjang perjalanan, orang-orang mencemooh dan memaki si Anak. Mereka menganggap bahwa si Anak itu adalah durhaka, tidak berbelas kasih pada Ayahnya, dan masih banyak lagi celotehan lain. Tak tahan, si Anak pun turun dari punggung kuda dan memohon kepada Ayahnya untuk gantian menaiki kuda itu. Si Anak akan memegang tali sambil berjalan dan Ayahnya cukup duduk manis diatas pelana kuda.

Apa yang terjadi kemudian ? Kini orang-orang yang melihat justru semakin keras mencemooh dan memaki si Ayah. Mereka menganggap pak tua itu adalah orang yang tidak tahu diri karena menyiksa anak sendiri. Si ayah dianggap tidak berhati nurani karena membiarkan anak laki-laki yang belum dewasa itu berpanas-panasan sementara ayahnya duduk manis diatas pelana kuda. Tak tahan, Si Ayah pun turun dari punggung kuda.
|
 bukankah tiada yang lebih indah ketika semua warna terpancarkan ?
dan kita terbeku tanpa memilih,
membiarkan semua berlalu tanpa sebuah penilaian ?