existentialism.

|
Sabtu dini hari pukul 3.45 Waktu Indonesia Bagian Galau.




Saya akan mengawali entri ini dengan sebuah ilustrasi sederhana.
Pada suatu hari, seorang Ayah mengajak seorang anak laki-lakinya ke pasar ternak. Rencananya hari itu mereka akan membeli seekor kuda. Setibanya di pasar ternak, mereka pun menemukan salah satu kuda terbaik dan langsung membelinya. Untuk memastikan bahwa hewan yang baru saja dibeli itu benar-benar seekor kuda terbaik, maka dalam perjalanan pulang sang Ayah menyuruh Anak laki-laki nya itu untuk menunggangi kuda sementara Ayahnya akan menggiring tali sambil berjalan kaki. Anak laki-laki itu pun lantas naik ke punggung kuda dan ayahnya perlahan menarik tali yang terikat di leher kuda agar bergerak maju.

Apa yang terjadi ? Sepanjang perjalanan, orang-orang mencemooh dan memaki si Anak. Mereka menganggap bahwa si Anak itu adalah durhaka, tidak berbelas kasih pada Ayahnya, dan masih banyak lagi celotehan lain. Tak tahan, si Anak pun turun dari punggung kuda dan memohon kepada Ayahnya untuk gantian menaiki kuda itu. Si Anak akan memegang tali sambil berjalan dan Ayahnya cukup duduk manis diatas pelana kuda.

Apa yang terjadi kemudian ? Kini orang-orang yang melihat justru semakin keras mencemooh dan memaki si Ayah. Mereka menganggap pak tua itu adalah orang yang tidak tahu diri karena menyiksa anak sendiri. Si ayah dianggap tidak berhati nurani karena membiarkan anak laki-laki yang belum dewasa itu berpanas-panasan sementara ayahnya duduk manis diatas pelana kuda. Tak tahan, Si Ayah pun turun dari punggung kuda.

Akhirnya kini mereka berdua memutuskan untuk jalan kaki saja. Biarlah kuda itu tak perlu ditunggangi.Cukup ditarik saja agar terus jalan maju dan mengikuti jalan kemana mereka akan pulang. Baru beberapa saat mereka berjalan, celotehan orang-orang mulai terdengar lagi. Kali ini mereka memaki si Ayah dan si Anak sambil tertawa terbahak-bahak. "Dasar Bodoh ! Buat apa kalian beli kuda itu kalau masih saja jalan kaki !"

Si Ayah dan Si Anak pun makin terdiam dan menyadari bahwa mereka dalam kebingungan. Apa yang harus mereka lakukan ? pikir mereka dalam benak masing-masing. Si ayah berpikir, jika kuda itu mereka tunggangi berdua, tentu saja orang-orang akan mengejek dan memaki mereka sebagai orang yang tidak berbelas kasih terhadap hewan. Lagipula ia ragu apakah kuda itu cukup kuat untuk ditunggangi oleh mereka berdua. Akhirnya si Ayah pun mendapat akal untuk mengatasi hal ini. Ia membisikkan sesuatu ke telinga anaknya. Si anak lantas tersenyum lalu mengangguk. Apakah rencana mereka ?!

Dalam sisa perjalanan ke rumah, akhirnya si Ayah dan si Anak memutuskan untuk bersama-sama mengangkat kuda itu. Si ayah memikul bagian depan dan Si Anak memikul bagian belakang. Walau agak kesusahan, perlahan namun pasti mereka pun melanjutkan perjalanan sembari memikul kuda. Wajah mereka tampak sedikit tersenyum walau beban mereka sungguh berat.

Apa yang terjadi ? Dalam sisa perjalanan tersebut, tidak terdengar lagi oleh telinga mereka cemoohan dan makian orang-orang yang tadi. Jalanan yang tadinya ramai oleh suara-suara sumbang kini mendadak sedikit sunyi. Si Ayah dan Si Anak kini hanya melihat orang-orang lebih serius menatap mereka tanpa komentar sedikitpun. Beberapa justru menggeleng, ada yang mukanya memerah seperti menahan tawa, tapi semuanya sama; tidak mengeluarkan komentar. Si Ayah dan Si Anak pun mengangguk-anggukan kepala sebagai pertanda betapa mereka menganggap 'cara ini' berhasil menyelesaikan 'masalah'.

(bersambung...)

2 comments:

Effendi k said...

"If you Dont Know me, dont judge me" kayak nya cocok tu dengan crita diatas..... Hidup harus punya keyakinan dan perserahan penuh untuk sang kuasa....hati harus setia dan kuat pada satu hal yang menurut kita baik, menjalani hidup layaknya air mengalir trus dengn aliran rahmat..... next (bgus pe blog kw) Cerdas

patrickdiaz said...

yup, dalam konteks kehidupan sehari-hari, judgement memang kadang menempatkan seseorang dalam situasi ketidaknyamanan. Setidaknya itulah yang hendak dibedah oleh aliran filsafat eksistensialisme. Bahkan manusia dianggap tidak bebas ketika mengakui kodrat tertentu seperti misal saat kita mengakui adanya 'Yang Kuasa'.

tulisan ini hanya ilustrasi sederhana, sebagai pisau yang mungkin bisa digunakan untuk membedah sekian persoalan yang berhubungan dengan kebebasan.

Kuharap, kita bisa berbagi pisau-pisau yang lain sebelum memutuskan pisau mana yang tepat untuk digunakan.

Trimakasih kawan, kau pun cerdas ! :)

Post a Comment