Erric Fromm (The Art of Loving)

|
Cinta pertama-tama bukanlah hubungan dengan pribadi tertentu.
Cinta adalah sikap;
suatu orientasi karakter yang menentukan jalinan seorang pribadi dengan dunia secara keseluruhan
bukan pada satu obyek cinta.
Karena tidak melihat bahwa cinta adalah sebuah aktivitas, kekuatan jiwa,
maka sebagian orang percaya bahwa yang terpenting dalam hal cinta ialah bagaimana menemukan
obyek cinta yang tepat.

untuk bung erric fromm : sepakat lah...hehehehe

Menelusuri Neoliberalisme.

|
Mungkin tulisan singkat ini bisa berangkat dari pertanyaan “mengapa kebijakan ekonomi pasar bebas ekstrim disebut Neoliberal ?”
Jawabannya tidak terletak pada ilmu ekonomi murni, tetapi pada sebuah pandangan tentang kaitan antara manusia dan masyarakat. Ini merupakan persoalan di ranah filsafat politik. Barangkali filsuf politik yang cukup lengkap membahas tentang landasan yang berkaitan dengan spirit neoliberalisme adalah Friedrich Von Hayek (1899-1992).
Dalam tulisannya, Hayek mengatakan bahwa “tatanan dapat terbentuk dengan sendirinya dari tindakan-tindakan bebas yang oleh para pelakunya tidak dimaksudkan secara sadar untuk membentuk tatanan”. Wujud dari gagasan Hayek adalah semisal tatanan yang dapat kita contohkan dengan “bangsa Indonesia” terbentuk secara alami bukan dari keinginan seorang akuntan, atau seorang buruh pabrik, atau seorang mahasiswa, atau seorang pegawai negeri, atau seorang pedagang yang melakukan kegiatan produksi mereka sehari-hari untuk membentuk sebuah bangsa Indonesia. Namun melalui pengorganisasian kegiatan-kegiatan produksi ini lah terbentuk sebuah tatanan masyarakat yang katakanlah disebut bangsa Indonesia.
Selanjutnya, tindakan-tindakan bebas dari setiap orang tadi tidak dengan sendirinya membentuk sebuah tatanan. Muncul kebutuhan berupa jembatan yang mampu menghubungkan antara tindakan dan sebuah tatanan. Disinilah gagasan Hayek menjelma menjadi program ekonomi, yaitu mendorong ekonomi pasar menuju posisi yang ekstrem. Jika dalam liberalisme klasik diasumsikan bahwa kegiatan ekonomi digerakkan oleh harga (price) dalam dinamika perimpangan supply dan demand, maka gagasan Hayek memakai mekanisme ini bukan hanya untuk mengatur kegiatan ekonomi, tetapi juga politik, hukum, budaya, pendidikan, dan barang atau jasa publik lainnya.
Jika dalam liberalisme klasik manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi / homo economicus (hanya) dalam bidang ekonomi, maka pada agenda Neoliberalisme manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi dalam bidang ekonomi, politik, sosial , budaya, dsb. Pandangan ini tidaklah jauh berbeda dengan fundamentalisme agama yaitu sebuah paham yang berbasis pada doktrin-doktrin agama. Oleh karena itu Neoliberalisme akan lebih tepat jika disebut fundamentalisme pasar.

Apa yang menjadi agenda Neoliberal ? Pertama yaitu melakukan penataan ulang di bidang politik, hukum, budaya, hubungan kerja, pndidikan, kesehatan , dsb. Semuanya harus berjalan dalam satu paradigma bahwa berbagai bidang kegiatan dalam masyarakat harus diasumsikan sebagai kegiatan dengan motif pengejaran kepentingan diri privat. Dengan landasan seperti ini, menjadi logis bila privatisasi, deregulasi, komersialisasi, dan liberalisasi menjadi agenda Neoliberal karena merupakan tujuan akhir dalam paradigma Neoliberalisme.
PS. Resume dari tulisan Herry Priyono, “Sesat Neoliberalisme”, dikutip dari Kompas 28 Mei 2009.

Requim : Senyum Berkabung

|
Jika langit kelak kembali dan mulai kau pahami
Kepakkan gaunmu mengayun turun, karena telah kubangun seribu menara
Dengan riuh cahaya lampu agar kau tahu
Masih menggetar samar jantungku disana dilaut……

Burung burung menjelma perempuan buta yang mencakar gitar diatas sampan;
seribu mantra bersetubuh dengan remang bulan
Dan sesuatu yang terampas dari ingatan tersalib di pematang pasang
Lalu raib menyaru gelombang –
apa yang terbabtis dibalik senyummu hingga segala jerit dari sajak sajakku tak dari jemari maut yang terapung
buntung ?
apa termakhtub dicelah bibirmu hingga ribuan pekik ?

Dawai yang kucabik dengan ingatan seorang penyair sekedar bunyi gaib yang mencair.
aku tahu, igauanku barangkali
Tak berjawab, langit terlalu jauh dan tak mesti ada kabar bagi doa yang bingar !
Tetapi persekutuan yang kau pilih dengan diam,
Diam itu telah menghantarku pada badai lain,
dan aku tak mampu lagi
sembunyi atau sekedar gemetar memandang sampan yang mulai tergenang perlahan ini:

Oh jika remuk kembali langit di celah bibirmu
Jika lepuh seluruh cahaya dari rapuh mantraku
Biar laut menjadi nabi dari segala yang tak berbentuk
Pada segala karam yang terkutuk



*karya Kananta
ini puisi kalo kata anak gaul tuh gue banget lah... :)

Trinitas.

|
aku menghadap ke luar jendela
ke dahan dan rumput yg baru tumbuh
menumbuhkan kerinduan yang sengit;

aku menghadap kepadamu
tak bisa menjerit
Udara adalah satu2nya yg sebanding dengan mu sore ini
yang menjadi nafasku meski ia diam atau menghambur
dan memperlihatkan dirinya menjadi pucuk2 daun

betapa perasaan ini adalah tangan yang meremas hati ku keras2
sampai remuk dan berjatuhan ditubuh impian yg selalu ku pungut lagi
nyaris seperti daun-daun jatuh di pagi hari.

*karya Mrd

refleksi 5 desember 2009

|
pikiran bertindak lahir dari benturan antara pemahaman dan ketidakmengertian.Yang berhasil keluar dari celah halus yang memisahkan antitesis diruang kritisisme filosofis dan riak praksis.Ini bukan tentang idealisme,tapi tentang yang hidup dan yang mati. Hiduplah sebagai yang bebas, yang menciptakan persepsi kebebasan atas belenggu dogmatis.Tapi satu hal yang utama, konsisten lah !

Arms Race and the Development of Nuclear Weapons Technology

|

Arms Race phenomenon begins to color the dynamics of politics among nations in an era called Cold War. At that time, for the interest of 2 superpower countries, the United States and Soviet Union try to spread their influence by making regional block. Each power tries to support military needs in each allied countries. History told us that the establishment of the Defense Pact like NATO (North Atlantic Treaty Organization) and Warsaw Pact are the media to achieve both superpower countries interest that cause conflict by proxy between countries that include in United States and Soviet alliances.

After Cold War period marked by the collapse of Soviet Union, conflict in conventional notion are absolutely decreased, but in last 10 years the growth up of military technology in some New Industrial Countries starts to increase. This case was marked by the increase of military budget and military technological advance.

To grasp this phenomenon, we may pose this question: What assumption backgrounds the policies made by the countries when they plan to improve their military technology that causes Arms Race Phenomenon?

There are some approaches that can be used to analyze this tendency. One of them is Realism Politics Paradigm. Realism Paradigm says that international political condition is always in anarchism. Country is always assumed as a threatened subject in this anarchism condition. Realism suggests that it is important for every country to build a military capacity in order to anticipate the aggressive behavior of other countries. From this perspective, whenever the improvement of military capacity becomes the chief instrument of many countries in international constellation, so the arms race phenomenon is inevitable. It is said so because every country tries to create a kind of deterrence to avoid military invasion of other countries.

For example, South Korea is enthusiastically improving their nuclear weapon technology in these last 5 years. So are the USA and Russia which are massively and consistently do the same effort such as the developing of intercontinental weapons. This happens due to the policy to secure the country from other’s threat. The perception on threat can be varied in many forms. One of them is the geopolitical consideration and other factors which are assumed can be attained if a country has a good military capability. Nuclear weapons have been proven to the world as the best bargaining power.

How far do we agree with the effort of military improvement? I think it is not ultimately needed due to the deterrence from other countries. I believe in this assumption since the conventional war is rarely happened. Instead of military capability, there are many other factors that can be utilized by Indonesia as the bargaining power in international constellation. One of them is by developing the economic capability. Military improvement must not be the main priority. I think the first attention should go to the social welfare of the members of Indonesian society i.e., the Indonesian citizens.

Mahameru (26 Oktober 2009)

|
Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa

sedikit tentang marxisme dalam studi HI

|
Berbicara tentang teori marxis dalam studi Hubungan Internasional maka kita akan membaginya dalam 4 bagian. Adapun 4 bagian tersebut yaitu Marxisme Ortodoks, Leninisme, NeoMarxis (Immanuel Wallerstein), dan Gramscian.

• Marxisme Ortodoks
Dalam perspektif Marx, masyarakat selalu mengalami situsasi yang kontradiktif. Hal ini sangat berbeda dengan pandangan kaum liberal yang mengasumsikan suatu perubahan social akan selalu bergerak kearah keseimbangan (baca:equilibrium). Di zaman komunal primitive, ketika corak produksi dicirikan dengan masa berburu, meramu, dan mengumpulkan makanan ;maka kehadiran suatu institusi yang mencakup kesatuan wilayah geografis dan berfungsi menjamin hak kepemilikan individu tidak terlalu dibutuhkan karena asumsinya semua kebutuhan disediakan oleh alam dan masing-masing mempunyai hak untuk memanfaatkannya sesuai dengan kapabilitas masing-masing.

Negara berdiri sejalan dengan perkembangan kapitalisme. Pertukaran pasar tidak mungkin terjadi tanpa adanya kepemilikan pribadi yang jelas. Di dalam pertukaran pasar, selain terjadi pertukaran komoditas, pada dasanya juga terjadi pertukaran hak milik (private property) yang berbentuk sertifikat. Dalam hal inilah Negara menjalankan fungsinya dalam arti bahwa Negara hadir untuk melindungi kepemilikan pribadi dengan menciptakan segenap regulasi. Kepemilikan pribadi akan mendukung terciptanya system pasar dan berikutnya system pasar akan mendukung akumulasi capital. Marx kemudian juga menganalisis kehancuran kapitalisme. Kapitalisme dalam pandangan Marx mengandung pengrusakan dari dalam yaitu yang ditandai dengan perlawanan kaum proletar terhadap kaum kapitalis yang menerapkan mode produksi yang exploitative serta over produksi. Dalam Studi HI, Analisis Marxisme Klasik sebenarnya lebih bertendensi pada situasi domestik


• Leninisme
Gagasan Vladimir Ilryc Lenin dalam konstruksi teori imperialisme memberikan sumbangsih dalam analisis politik internasional. Berakar dari Materialisme Dialektika Historis, Lenin menemukan bahwa pada saat masyarakat Eropa berada dalam fase merkantilisme terlebih pasca Revolusi Industri di Inggris, ekspansi capital ke berbagai belahan dunia pun terjadi. Dalam karyanya, Imperialism : The Highest Stage of Capitalism, ia mengatakan bahwa telah terjadi kepenatan pasar atau daerah hasil pemasaran industry dan krisis bahan dasar penunjang industru telah mendorong bangsa Eropa melakukan imperialisme. Konflik antar Negara kapitalis akan terjadi seiring dengan perluasan pangsa pasar yang dilakukan oleh masing-masing Negara. Melalui lembaga-lembaga internasional yang dibentuk, peleburan gagasan liberalism dengan corak produksi kapitalistik melahirkan suatu pembabakan dalam ekonomi politik yang kemudian dikenal dengan istilah imperialisme.

• Neo-Marxis (Immanuel Wallerstein dalam World System Theory)
Berakar dari Teori Marxis yang berisi tentang pengelompokan kelas (borjuis dan proletar) serta penghisapan nilai lebih, Immanuel Wallerstein mencoba memodifikasinya lewat Teori Sistem Dunia. Dalam teori system dunia yang dikemukakan oleh Immanuel Wallerstein dari kelompok Neo-Marxis, dikatakan bahwa pada dasarnya dunia terbagi atas 2 kontinental yaitu wilayah Utara-Selatan.
Wilayah Utara (Centre) dicirikan sebagai Negara Industri Maju dengan karakteristik sbb :
 Basis kegiatan produksi pada sector teknologi tinggi
 Ekspor barang-barang manufaktur /komoditas sekunder
 Sistem demokrasi yang stabil
 Kawasan ini menjadi tujuan ekspor barang mentah / barang setengah jadi dari Negara periphery dan semi periphery
Contoh Negara yang masuk dalam kategori Centre : London, Tokyo, AS, New York

Wilayah Selatan (Peryphery) dicirikan sebagai Negara berkembang memiliki karakteristik :
 Demokrasi yang tidak stabil dan dipimpin oleh rezim otoriter
 Sistem ekonomi bertumpu pada sector ekspor primer
 Belum menemukan corak produksi secara pasti
Contoh Negara yang masuk dalam kategori Peryphery : Thailand, Malaysia, Indonesia

Negara semi-peryphery memiliki karakteristik sbb :
 Demokrasi yang belum stabil
 Pada umumnya melakukan impor barang mentah dan barang setengah jadi tetapi juga mengekspor produk manufaktur yang bersifat padat karya (bukan teknologi tinggi : produk kosmetik,dll)
 Wilayah ini menjadi lokasi dan relokasi Negara-negara pusat (Centre)
Contoh Negara yang masuk dalam kategori semi-peryphery : Korea Selatan, Hongkong, Taiwan

Teori Sistem Dunia berangkat dari argument bahwa seiring dengan perkembangan kapitalisme internasional, dunia terbagi kedalam tiga kelas tersebut (Centre, Pherypery, dan Semi-Pheryphery). Dalam system dunia seperti yang telah dianalogikan tersebut, Negara Pusat mengeksploitasi Negara pinggiran melalui Negara semi-peryphery. Kecendrungan ini kemudian berakibat pada mengalirnya sumber kekayaan Negara pinggiran ke Negara pusat tanpa dibarengi dengan laju pertumbuhan ekonomi di Negara pinggiran.


• Gramscian
Salah satu pemikir dalam kelompok neo-marxis ialah Antonio Gramsci. Dalam kumpulan catatan yang dibukukan menjadi The Prison Notebooks, Gramsci cenderung menganalisis perubahan di tatanan ide/gagasan. Melalui pisau analisis Gramscian, kita mampu menemukan jawaban mengapa Negara pinggiran seperti yang terkonsep dalam Teori Sistem Dunia seolah menerima begitu saja eksploitasi yang dilakukan oleh Negara Pusat / NIM.
Dalam pandangan gramsci, kapitalisme sendiri telah berhasil termodifikasi baik di tingkatan strategis maupun taktis. Akibatnya, consensus antara NKB dengan NIM pun mampu dikonstruksikan. Konsensus itu adalah diterimanya ideology laisez faire dalam kesadaran kolektif sebagai sesuatu yang mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh system Negara.
Bagaimana ide-ide kapitalisme tersebut kemudian mampu terkonsolidasikan ? Dalam Teori Hegemoni, Gramsci mengatakan bahwa perubahan kebijakan Negara dapat dianalisis di tingkatan ide yang melatarbelakanginya. Dalam penyebaran ide inilah, Negara Maju atau Negara Kapitalis melakukan hegemoni terhadap ide-ide lain yang khususnya membawa kesadaran revolusioner untuk menentang kapitalisme. Hegemoni dijalankan lewat institusi-institusi internasional seperti World Bank, IMF, WTO, dsb hingga sampai pada tingkatan domestic Negara Berkembang semisal lewat institusi pendidikan dan pers. Penanaman gagasan dalam konstruksi pikiran masyarakat inilah yang dipercaya mampu melanggengkan eksploitasi serta akumulasi capital.
Gramsci juga mengatakan bahwa untuk bertahan dari serangan ide-ide ataupun orientasi psikologis yang hendak dibangun, Negara Berkembang harus mampu menciptakan blok historis baru. Satu-satunya unsure yang dianggap potensial dalam menciptakan blok historis baru tersebut ialah kaum intelektual organic yang mampu menjadi agent of change dan memiliki keberpihakkan pada masyarakat.
Contoh analisis gramscian dapat dipakai ketika tahun 1990an. Pada waktu itu dalam konteks global telah tercipta ruang diskursus mengenai Free Trade atau Free Market yang di blow up lewat media massa. Akibatnya pada waktu itu, disemua tingkatan wilayah berbicara mengenai liberalisasi. Alhasil pada tahun 1993 lahirlah GATT.

Referensi :
Dr.Mohtar Mas’oed, Ekonomi,Politik Internasional dan Pembangunan, 2003, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Robert Jackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, 2005, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, 1999, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

a short essay

|
Developing countries have often made mistake by abandoning traditional methods and replacing them with modern technology.

Every change basically has certain effect regardless it is good or bad. In this occasion I try to discuss one of the bad effects as the consequence of a change. Actually a country always makes a change in order to create prosperity for its citizens.

Developing countries usually strive for changes in some sectors, such as economy improvement, defense and security, social-welfare, science and technology. Of course in the struggle of making change and renewal, negative effects are inevitable. One of them is the disappearance of the cultural tradition value which shows national identity.

As an example, I highlight the analysis of a prominent phenomenon we face nowadays: the emergence of many malls, supermarket, and franchise business of foreign product that unconsciously have replaced the capacity and capability of our traditional market. Twice a week or once a month at minimum one of us might go to the mall or supermarket for shopping or just for sightseeing.

We feel so comfortable when we are in the mall. We can enjoy many kinds of technological advance and different services provided by them, such as : Escalator technology that make all customers do not need to walk from downstairs to the 4th floor.Central Air Conditioner that makes room temperature becomes more chilly and fresh, Enjoying unlimited internet access technology, Cashier machine technology which can count all the items purchased more quickly and accurately, Knowing all the newest and trendiest clothing model
We can find out every item of our daily needs in the existing outlets such as private needs, clothing, shoes, beauty salon, fast food, and the likeAnd especially for those who want to look for beautiful girls, there are many Sales Promotion Girls in the Mall.

Apart from all of those phenomena, do we ever think the fate of trader and traditional market which is also part of this nation? Even just for buying 1kg of lemon, people will go far to a mall, even though if the fruits sold in the mall are not the product of our local farmers. If the practices as I said before go on in their way, how we can say “love and use our national product?”

A trendsetter image that is offered by mall has made Indonesian people become much more consumptive. Even though if we observe deeply, there will be many advantages if we buy goods in traditional market, such as :
  1. Reasonable prize
  2. In bargaining, we learn how to communicate with others and improve our brotherhood based on a direct face-to-face meeting.
  3. Knowing our national products like handicraft, special food or snack and the like
  4. Learning how to be hospitable and friendly with other because friendliness is one of our ntional characteristics.

Foreign tourists are usually interested in Indonesia because we still preserve national culture besides to visit tourism objects. Shopping in traditional market, we will show how Indonesian people try to preserve national culture. I am sure that it will be special interest for them. In this case, our government especially the local government should consider the effects of the establishment of modern shopping centre towards the existence of our traditional market and its traders.

Our government should pay more attention to the affectivity level of micro economy and the formation of public opinion. They should not only calculate tax, investment and benefits those are received from modern shopping centre.

To solve this problem, they can impose certain regulation on the schedule of the ‘open day’ and the amount of mall development. From all the examples I told above, it’s normal that there will be negative effects as a result of alteration or change especially in the technology sector.

In developing country, it’s hard to avoid the negative effects of technology that stand in contrast to our traditional culture which we claim as the characteristics of our country. But if there is strong willingness from all people, I am sure these problems can be minimized. China has proved it all.

Tetaplah Melukis

|
Tetaplah melukis "KEKUATAN" diatas MASALAH yang berwujud KANVAS

TAKARLAH warna-warni pengetahuan,ingatan akan pengalaman,kreativitas,
cinta,semangat dan doa..

lalu goreskan takaran dengan kuas yang dipapah oleh TANGAN mu
Tangan seorang lelaki bernama PATRICK

semoga kelak lewat lukisan itu,ada kebahagiaan dihati SEMUA ORANG yg KAU SAYANGI

dan semoga ALLAH juga tersenyum.

mei '09

Cinderamata sore ini

|
Pantai akan kehilangan keindahan ketika gelora ombak air laut dan pasir putih menyatu,
menjadi tenang..
entah satu karena bahasa takdir atau ketika salah satu menaklukan yg lain
dan begitu lah kita manisku
setiap persinggungan ternyata bukan kebutuhan akan kesatuan
yang akan menghapus keindahan itu sendiri
abadilah engkau gairah ombak,
krn kita tidak saling mengikis
ada dan tetaplah ada wahai kau yang disebut pantai
berakarlah dalam ingatan
tentang keindahan agar tetap bisa mereka nikmati


juni '09

Huruf,Sahabat,Kawan.

|
kutinggalkan kau sejenak sahabatku;
huruf-huruf yang selalu ada
karena malam ini tak kutemui hukum baru
untuk memaksamu percaya
engkau bisa berdiri seperti layaknya deretan angka
lalu memihak pada ku

sore tadi kupasung tanganku
agar ia tak lancang menulis
maaf bila kau harus pupus malam ini
kau tidak untuk tinta
tidak saat ini
tidak ada persekutuan kisah bagi kalian !!


jangan menebak
kau terlalu kecil untuk bersanding dengan tiap getar jantungku
juga mataku
kau bisa berkawan dengan mataku
karena ia begitu sempit
patuh pada hukum lama

kesamar-samaran ini
kemenanganku dan dirinya
kami hendak diam saja
diam yang menggetarkan niat tangan seorang pelukis realis
pun dawai gitar harus malu membisu,datar,


seperti candu yang selalu kau berikan juga padaku
kau menuntunku merasa bahwa kita dipersatukan hanya oleh kesedihan
kau salah sahabat.
kau harus salah.
malam ini aku juga membekalimu,
kelak kau sendiri yang akan menikmati kekalahan ku
dan akan kau hujam seperti anak haram dari keindahan yang kau pernah tetapkan.
tunggu dan bayangkanlah gelak tawa kesenangan yang akan kau jemput sendiri


nanti di hari kemenangan,
aku mau menyebutnya begitu,
kalian menurunkan jasad ku;kawan dan sabahatku.
yang terhunus angkuh
biar sekat persinggahan yang berdakwah,
lalu kau bebas bergerak sahabatku;
huruf-hurufku yg hari ini kutinggalkan.


august'09.

Ganti Rezim, Ganti Tim Ekonomi ?

|

Sejak kemerdekaan Indonesia, persoalan kemiskinan, ketimpangan, HAM,dsb seolah tetap menjadi warna dominan dalam kehidupan bangsa. Tulisan ini coba memetakan konflik kepentingan yang terjadi di tingkatan lembaga pemerintah sehingga berujung pada dikeluarkannya produk kebijakan yang tidak sesuai dengan amanat konstitusi. Produk kebijakan yang dimaksud adalah seluruh kebijakan-kebijakan ekonomi baik di tingkatan nasional maupun kebijakan di tingkatan sistem ekonomi politik internasional yang notabene juga akan berimbas ke situasi domestik.

Pemilihan atas telaah ekonomi didasarkan pada pengamatan penulis bahwa perubahan cabinet maupun rezim di Indonesia ternyata tidak berdampak pada perubahan orientasi tim ekonomi nasional. Perubahan rezim yang terjadi pada era 1965, 1998, 2004, hingga 2009 mendatang belum mampu menggantikan arah kebijakan ekonomi yang diorientasikan oleh tim ekonomi. Hampir dapat dikatakan bahwa arah kebijakan dari tim-tim ekonomi Indonesia dari waktu ke waktu justru semakin jauh dari semangat nasionalisme yang sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Akibatnya persoalan pembangunan ekonomi yang menekankan aspek pemerataan untuk kesejahteraan rakyat masih menjadi sesuatu yang kabur.

Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan apakah memang orientasi kebijakan ekonomi yang pro ekonomi pasar neoliberal menjadi suatu tahap alamiah ataupun terlahir dari pertimbangan rasional (pilihan sadar) atas kondisi ekonomi politik Indonesia ? Atau justru ada banyak kepentingan yang bermain didalamnya sehingga tim-tim ekonomi dan pemerintah harus mengorbankan kesejahteraan rakyat ?

Revrison Baswir dalam bukunya Mafia Berkeley memetakan kelompok-kelompok tim ekonomi nasional kedalam tiga kelompok yaitu Kelompok Nasionalis Neoliberal, Kelompok Nasionalis Populis, dan Kelompok Anti Nasionalis. Di konteks kebijakan ekonomi internasional :

· Kelompok Nasionalis Populis menekankan pentingnya kemandirian ekonomi, artinya bahwa Indonesia tidak membuat sekat dalam wilayah pergaulan ekonomi internasional tetapi semuanya harus dilakukan dengan menempatkan Indonesia sebagai sebuah Negara merdeka. Keterlibatan dalam pergaulan ekonomi dunia (yang dapat digeneralisir menjadi adanya kecendrungan kearah neoliberalisme ekonomi terlebih pasca Perang Dingin) akan dilakukan jika sejalan dengan kepentingan seluruh rakyat. Beberapa nama yang termasuk kedalam kelompok ini ialah Prof.Mubyarto, Kwik Kian Gie, Sritua Arief,Sri Edi Swasono, dan Rizal Ramli (tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit).

· Kelompok Nasionalis Neoliberal dan Kelompok Anti Nasionalis memiliki pemahaman yang sama dalam hal terciptanya koordinasi dan keseragaman landasan ekonomi Negara-negara dunia sebagai prasayarat bagi kemakmuran nasional. Namun kelompok Nasionalis Neoliberal kurang menonjol dalah hal wacana mengenai nasionalisme ekonomi. Kelompok ini cenderung berkonsentrasi pada permainan saham di bursa.

· Kelompok anti Nasionalis lebih menekankan pentingnya kebebasan individu sehingga nasionalisme ekonomi dipandang sebagai penghambat bagi kemajuan bangsa. Kelompok ini pada masa Orde Baru dikenal dengan istilah Mafia Berkeley dan saat ini dikenal dengan Mafia Ekonomi Orde Baru. Beberapa nama yang termasuk dalam kelompok ini adalah Emil Salim, Mohamad Sadli, Frans Seda, Dorodjatun Kuncorojakti, Boediono, dan Sri Mulyani. Istilah Mafia Berkeley dan Mafia Ekonomi Orde Baru secara substantive dapat didefinisikan sebagai sekelompok ekonom Indonesia yang dibina oleh pemerintah AS (melalui lembaga pendidikan seperti Universitas California di Berkeley, Harvard University, dsb)untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke jalan ekonomi pasar neoliberal.

Setelah kita cukup memahami kategorisasi dalam hal asumsi dasar dari kelompok-kelompok ekonomi nasional, maka yang akan kita lakukan berikutnya ialah mencoba melihat kelompok mana yang lebih banyak terlibat dalam pembuatan kebijakan ekonomi nasional. Analisis dapat dilakukan dengan menguraikan produk-produk kebijakan ekonomi makro yang dibuat dalam masa rezim tertentu. Setelah itu mencari tahu siapa saja yang tergabung dalam tim ekonomi saat itu. Person-person yang tergabung dalam tim ekonomi tentunya merupakan salah satu wakil dari ketiga kelompok diatas yang terlibat secara langsung dan dalam proporsi yang besar dalam perumusan kebijakan.

A. Transisi Orde Lama - Era Orde Baru – Era transisi reformasi BJ Habibie

Transisi dari orde lama ke orde baru memang masih menimbulkan perdebatan hingga saat ini. Namun ini tidak berarti bahwa kita tidak mampu melakukan analisis. Transisi terjadi di saat situasi politik internasional berada dalam kondisi perang dingin dengan ciri pokok adanya dikotomi ideologis. Indonesia pada era Soekarno dapat dikategorikan sebagai Negara yang cenderung pro pada blok komunis. Secara singkat saja, belakangan ini banyak dihasilkan temuan-temuan ataupun bukti sejarah yang menjelaskan bahwa terdapat keterlibatan AS dalam transisi rezim Orla ke Orba.

Alhasil setelah kenaikan Soeharto beberpa kebijakan yang pro neoliberalisme ekonomi langsung mewarnai kebijakan nasional dan kebijakan internasional. Pada saat itu arsitek ekonomi Indonesia dikomandoi oleh Frans Seda dan Emil Salim. Fakta yang mendukung diakuinya eksistensi Mafia Berkeley pada waktu itu ialah bahwa pada masa awal Orde Baru, tim ekonomi juga mengklaim bahwa melalui bantuan IMF mereka mampu menekan inflasi dari sekitar 600 % pada tahun 1966 menjadi di bawah 10 %. Mereka juga mengklaim terlunasinya utang luar negeri dan mampu menggenjot masuknya investasi asing. Beberapa kebijakan di konteks domestic maupun internasional ialah tergabungnya Indonesia dalam GATT,IMF,dan WB serta di konteks domestic diberlakukan UU PMA yang menghasilkan boom investasi (salah satunya ialah masuknya PT Freeport Indonesia).

Di masa orde baru kekuatan antara Mafia Berkeley dan Birokrat Rezim didukung oleh adanya kondisi social politik pada masa itu. Pertama,Orde Baru berhasil melakukan desukarnoisasi dan pemberantasan sisa-sisa budaya politik Orde Lama. Hegemoni di ruang kesadaran masyarakat ini menghasilkan dukungan terhadap ideology pembangunanisme soeharto dan tentunya mafia Berkeley serta kapitalisme internasional. Kedua, Kebijakan sentralistik dan militeristik yang dijalankan oleh Soeharto berhasil mematikan perlawanan baik secara gagasan maupun praktek masyarakat khususnya mahasiswa dan Ketiga yaitu adanya dukungan besar kapitalisme internasional untuk membiayai proses pemulihan ekonomi Orde Baru

Jadi Mafia Berkeley berada di posisi yang sangat strategis pada era Orde Baru karena mendapat dukungan dari rezim dan juga dukungan eksternal. Akhirnya tugas Mafia Berkeley hanya tinggal menetapkan draft UU yang asumsinya menciptakan dan mendukung iklim pasar bebas.

Namun momentum krisis 1998 mampu memotong pemahaman kuatnya ekonomi Soeharto dan di konteks internasional, Indonesia mulai mengakomodir masuknya lembaga-lembaga donor (IMF dan WB) untuk membantu Indonesia keluar dari krisis dengan resep LoI yang ditawarkan.

B. Transisi (Era Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri)

Era Abdurahman Wahid memang sempat membuat restrukturisasi tim ekonomi sehingga keberadaan Mafia Berkeley kurang mendapat tempat dalam pemerintahan. Lebih jauh dikatakan juga bahwa Gus Dur sempat berinisiatif untuk menciptakan blok ekonomi baru antara Indonesia, China, dan Israel. Namun perjuangan intraparlementer tentu sangat syarat politis pragmatis sehingga kita semua harus menyaksikan digulingkannya salah seorang pemimpin cerdas dan populis tersebut.

Era megawati sering dijuluki sebagi era diberikannya karpet merah bagi investor asing. Kebijakan Megawati lebih outward looking disbanding dengan kebijakan ekonomi Orba. Para pejabat KGR di bidang ekonomi antara lain Theo F Tumion (BKPM), Rini MS Suwandi (Mentri Perindustrian), Laksamana Sukardi (Meneg BUMN) kesemuanya mengajukan draft yang berisi tax holiday, promoting investment, dan privatisasi BUMN. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Presiden Megawati pada waktu itu : “saya siap untuk melakukan kebijakan yang tidak nasionalis dan tidak populis, karena kesemuanya bersifat konstruktif jangka panjang”. Era Megawati juga ditandai dengan ledakan privatisasi BUMN serta keberlanjutan ketelibatan IMF melalui Post Monitoring Program hingga tahun 2007.

C. Era SBY

Akhir tahun 2008, ketika krisis finansial yang terjadi di Amerika mencapai titik klimaks yaitu ditandai dengan deklarasi bangkrut sejumlah perusahaan investasi global, beberapa Negara mulai melakukan proteksi dan pemberian bailout serta pengalihan investasi ke luar region bagi stabilnya ekonomi riil. Yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, Tim Penanggulangan Krisis yang dibentuk oleh rezim SBY-JK yang terdiri dari Sri Mulyani dan Boediono melakukan kebijakan yang lagi-lagi pro terhadap investasi asing. Pemerintah justru melakukan peningkatan suku bunga BI dan melakukan pembelian kembali sahah (buyback).

Era SBY juga ditandai dengan penghapusan subsidi BBM karena asumsi yang dipakai oleh arsitek ekonomi (khususnya Mentri Keuangan Sri Mulyani) ialah bahwa pemerintah harus mampu menekan deficit anggaran dengan menghapus subsidi kebutuhan social masyarakat. Kejanggalan bernuansa politis juga ditemui melalui kejadian diberikannya BLT kenaikan BBM dan penurunan harga BBM yang berdekatan dengan waktu pemilu legislative diselenggarakan. Dengan gambaran situasi seperti ini, menjadi mudah untuk dipetakan bahwa terdapat keselarasan kepentingan antara SBY dengan arsitek ekonominya yaitu kelanggengan kekuasaan. Kepentingan ini pun kemudian dicapai dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Rakyat yang perutnya kosong disuguhi dengan makanan politik pembodohan.

Gebrakan terbaru yang dibuat oleh SBY dan arsitek ekonominya ialah kebijakan Utang Luar Negeri baru yang diupayakan dalam pertemuan forum G20 di London pada bulan April 2009.

Bagi para ekonom Mafia Berkeley,keberadaan kapitalisme internasional baik dalam bentuk lembaga donor internasional maupun investor asing disini sangat dibutuhkan sebagai tameng untuk mempertahankan posisi mereka di lingkaran kekuasaan. Tanpa dukungan dari kapitalisme internasional, para ekonom Mafia Berkeley tidak hanya akan kehilangan mandor tetapi juga akan kehilangan kekuatan yang mampu meyakinkan pemerintah bahwa posisi mereka di lingkaran kekuasaan perlu dipertahankan.

Referensi :

Revrisond Baswir, Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia, 2006, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sritua Arif, Negeri Terjajah – Menyingkap Ilusi Kemerdekaan, 2006, Yogyakarta : Resist Book

Kompas Cetak 3 April 2009 diakses dari www.kcm.com

ada ; cahaya

|
ada saat-saat
dimana aku mengharapkan engkau mencegahku,
entah untuk pergi
atau sekedar berdiri pada satu titik
dalam jarak yang menghubungkan antara...
ah...kau lebih tau
apa sebutan yang tepat untuk jarak itu

pada satu titik
dimana kemunafikan seolah menjadi udara segar
menyisakan kekalahan seorang petarung
dengan hukuman menapaki senyum anggunmu
yang bersajak tentang keangkuhan, kemenangan,
juga ketidakberdayaan

tetapi suatu kekuatan
daya tak ternalar
kuasa atas awal dan akhirku
menyihirku
untuk menjadi pelukis
diatas kanvas ketidakpastian

dan kau ?
ada;cahaya.

(mei'09)

Kisah Malam Natal seorang Pemuda dan Malaikat Pelindungnya

|

“Bila iman adalah suatu komitmen kepada Allah dan umat manusia,maka mustahil keberimanan kita pada hari ini mengabaikan komitmen kepada proses pembebasan umat manusia; dari segala kemiskinan dan penindasan”

(Gustavo Gutierrez dalam Alfred T. Hannelly,1995:11)

Kisah Malam Natal seorang Pemuda dan Malaikat Pelindungnya

Alkisah hiduplah seorang pemuda yang hari ini tepat berusia 30 tahun. Pemuda itu hidup dengan kondisi yang cukup mapan. Ia bekerja sebagai seorang direktur, mempunyai rumah mewah di berbagai kota, menjadi sosok idola para wanita, dan segala impiannya hampir semua telah terpenuhi.

Pada malam ini, setelah usai dari perayaan ulang tahunnya, ia segera bergegas untuk pulang karena merasa sangat lelah. Akhirnya ia pun mulai tertidur dan bermimpi.

Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan malaikat pelindungnya dan malaikat itu berbicara dengannya,

“Ikutlah dengan ku, ada banyak hal yang harus kamu lihat”

“akan kau bawa kemanakah aku ?” jawab si pemuda

Malaikat itu tidak menjawab dan mulai merangkul tangan pemuda itu, dan secepat kilat mereka terbang menuju suatu tempat.

Tempat itu adalah sebuah tempat gelap dengan tumpukan kardus dan beberapa kain kotor berceceran. Ada tumpukan sampah plastic dan rongsokan besi karat di dekatnya.

“Tempat apai ini ?” Tanya si pemuda kepada Malaikat.

Namun malaikat itu hanya diam seolah tidak mendegar pertanyaan pemuda itu.

Setelah beberapa saat, mengertilah pemuda itu bahwa yang dilihatnya sebenarnya ialah tempat tinggal sebuah keluarga. Tapi bagaimana mungkin, bagaimana mungkin tempat ini bisa disebut sebagai tempat tinggal ? Kenapa mereka tidak memilih untuk tinggal di rumah yang nyaman ? Agar sesosok anak kecil yang berada di hadapannya saat itu tidak merasakan kedinginan..

Sementara ia tenggelam bersama pertanyaan-pertanyaannya, Malaikat itu kemudian menarik tangannya dan mereka kembali terbang melintasi sekumpulan awan di malam itu, malam natal.

Kali ini mereka tiba di suatu tempat yang hampir setiap hari ia lewati. Sebuah perempatan di pusat kota.

“Apa yang kau inginkan dari ku ?” Tanya Pemuda kepada malaikat

“Lihat dan kelak kau akan mengerti” jawab Malaikat

Lalu pemuda itu melemparkan pandangannya pada beberapa anak kecil yang sepertinya sedang bertengkar di trotoar. Ia pun mulai mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sekawanan anak itu.

Ternyata anak-anak itu sedang bertengkar memperebutkan wilayah lahan ngamen . Pertengkaran itu berlanjut hingga berujung pada perkelahian fisik.

Pemuda itu berteriak, “Hey…Berhenti !!” Tetapi percuma, anak-anak itu tidak mendengar teriakannya. Ia pun memutuskan untuk melerai perkelahian itu. Tetapi usahanya juga sia-sia karena tangannya tidak mampu menyentuh anak-anak itu. Ia berada di alam mimpi.

“Kenapa kau membiarkan mereka bertengkar ? Kenapa anak-anak itu harus memikirkan apa yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka pikirkan ? Kemana orang tua mereka ? Kalaupun mereka yatim piatu, kenapa tidak langsung saja ke panti asuhan ?” Pemuda itu berteriak kepada Malaikat pelindungnya

Malaikat itu hanya membalas teriakan si pemuda dengan satu senyuman kecil dan seperti sebelumnya, ketika sang pemuda mulai berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, malaikat itu dengan cepat menarik tanggannya dan terbang lagi ke suatu tempat.

Kali ini tempat yang dilihatnya ialah sebuah gedung tinggi seperti sebuah benteng. Lalu mengertilah ia bahwa tempat itu adalah sebuah penjara di kota nya. Ia pun mulai mengamati setiap sudut penjara itu dan tiba-tiba matanya terhenti pada beberapa orang yang terlihat berbeda dari para narapidana yang lain. Orang-orang itu berpakaian rapi dan ruangan mereka terlihat bersih dan dilengkapi dengan beberapa peralatan elektronik. Ia pun mulai heran dan memutuskan untuk mendekat ke arah orang-orang tersebut. Dan ia pun terkejut. Wajah orang-orang itu seolah tidak asing bagi pemuda itu.

Ternyata mereka adalah pejabat daerah di tempat ia tinggal. Beberapa bulan terakhir memang terdengar kabar di media bahwa beberapa birokrat sedang terlibat skandal korupsi.

Tentu saja ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya barusan. Ia menoleh ke malaikat,

“Bagaimana mungkin orang-orang itu masih tetap mapan dengan sekian kejahatan yang telah mereka lakukan ?”

Malaikat itu hanya diam membisu.

Pemuda itu pun bertanya untuk kedua kali hingga kesekian kalinya dan malaikat itu masih tetap membisu sambil sesekali mengangkat kedua alis matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia menghendaki agar pemuda itu berpikir sendiri.

Pemuda itu pun terdiam dan pada saat yang bersamaan pikirannya tertuju pada apa yang dilihat sebelumnya, rumah dari tumpukan kardus dan perkelahian anak jalanan.

Tak terasa ia pun mulai meneteskan air mata. Ia berpikir bahwa betapa hidup ini seolah tidak adil bagi sebagian orang.Betapa inginnya ia merubah keadaan ini. Ya, betapa inginnya ia merubah situasi ini.

Malaikat pun datang mendekat ke arahnya dan mulai menghapus air mata pemuda itu.

“aku ingin sekali merubah semuanya menjadi baik, aku harus merubahnya ! Tetapi itu mustahil, aku tidak mungkin bias membantu beribu-ribu orang, dan lagi pula waktu luang ku tidak cukup banyak untuk memikirkan hal ini. Pekerjaanku selalu menunggu untuk ku selesaikan. Bukan kah pemerintah yang harus bertanggung jawab atas sekian fenomena ketimpangan ini ? Ya pemerintah lah yang mampu !” kata pemuda itu kepada malaikat dengan suara serak.

Baru beberapa detik ia berbicara, ia pun mulai tersadar bahwa betapa sejarah bangsanya membuktikan bahwa belum ada elit birokrat yang cukup konsisten dengan penuntasan kemiskinan dan ketimpangan. Ia pun mulai berkata lagi pada malaikat pelindungnya,

“Tuhan. Ya Hanya Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu menyelesaikan kebobrokan ini dengan cepat. Apakah kau tahu kenapa Tuhan yang begitu Maha Kuasa membiarkan fenomena ini terjadi di bangsa ku, umat Nya yang tertulis sangat dikasihi Nya ?? Kenapa Tuhan ?? Dan kau, Mengapa kau hanya diam saja, Apa kah kau pun tega melihat ini semua sama seperti Tuhan ??”

Malaikat itu tidak menjawab dan langsung menarik tangan pemuda itu lalu secepat kilat mereka telah tiba kembali di kamar tidur pemuda itu.

Pemuda itu masih saja berteriak dan bertanya kepada malaikat, “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi, Kenapa Tuhan tidak merubah keadaan ini ?”

Malaikat itu akhirnya menatap mata sang pemuda dan mulai berbicara dalam suara yang menggema :

“TUHAN TELAH MENGUBAHNYA LEWAT MENCIPTAKAN MU”

“TUHAN TELAH MENGUBAHNYA LEWAT MENCIPTAKAN MU”

Dan sekejap pemuda itu pun kembali tertidur.

Keesokan hari gema suara ini lah yang selalu terngiang di telinga sang pemuda, selama ia berkarya.

Kawan-Kawan pembaca yang dimuliakan dalam Tuhan, situasi yang terkandung dalam cerpen diatas sebenarnya merupakan sedikit gambaran dari situasi yang tengah di hadapi oleh bangsa ini. Fenomana kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan, kejahatan para elit, hingga sekian permaslahan kompleks lainnya tengah mewarnai kehidupan Indonesia hari ini.

Sama seperti si pemuda, pada dasarnya kita selalu mempunyai harapan di dalam hati kita. Harapan untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik bagi sesama. Karena Manusia diciptakan Allah dengan citra baik.

Tapi sama seperti si pemuda, kita terkadang menyerah dengan asumsi keterbatasan yang kita miliki dan perbandingannya atas sekian kerumitan dalam permasalahan yang tengah kita hadapi. Lalu praktis kemudia kita berpikir bahwa hanya Tuhan lah yang dapat dengan mudah melakukan perubahan, melakukan apa yang kita harapkan yaitu di mana semuanya bisa menjadi lebih baik.

Ketika perubahan tidak terjadi, maka kita kan dengan mudah pula melemparkan keslahan ataupun penyebab dari semua ini kepada Tuhan. Bahwa Tuhan lah yang sepenuhnya harus bertanggung jawab atas semua permasalahan ini. Kita seolah menjadi seorang guru dan menempatkan Tuhan sebagai murid.

Persis seperti apa yang dialami pemuda itu dalam perjumpaannya dengan malaikat pelindungnya, gema suara malaikat itu juga kerap kali terdengar dalam hati dan pikiran kita masing-masing. Kita disadarkan bahwa perubahan dan kuasa lah akan terwujud dalam karya nyata kita. Tetapi tidak terhitung beberapa kali kita mengabaikannya karena memang situasi hari ini telah menjadikan kita sebagai manusia yang pragmatis.

Namun pernahkah kita sejenak mengamati bahwa setiap perubahan besar di manapun selalu diawali dengan perubahan kecil ?

Situasi hari ini memang telah menciptakan suatu paradigma yang membentengi sekian ruang kesadaran kita. Melalui asumsi utopis yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai globalisasi, terjadi ketimpangan ekonomi politik serta clash of cultural values yang kesemuanya sampai hari ini masih saya yakini merupakan bentuk dominasi atas Negara berkembang. Sulit untuk menghindarkan diri dari homogenisasi baik secara ideologis maupun praksis. Akibatnya ruang-ruang kesadaran yang secara formal dihasilkan dalam institusi social (lembaga pendidikan,media massa,dll) akan dengan mudah direduksi oleh sekelompok pemodal yang bergerak dengan asumsi ekspansi dan akumulasi.

Seorang Antonio Gramsci, Flisuf Politik terkemuka yang berasal dari Italia pernah mengungkapkan bahwa untuk mencounter apa yang dinamakan hegemoni atau mungkin dalam istilah yang lain merupakan sebab dari sekian ketimpangan yang terjadi hari ini, perlu diciptakan suatu blok historis baru. Mereka yang mampu menciptakan blok sebagai counter atas hegemoni ini adalah mereka yang disebut sebagai intelektual organic. Intelektual bukan dalam pengertian akademis tetapi kumpulan orang-orang yang terlahir dan berkembang dari pengenalan mereka atas situasi dan kondisi masyarakat yang melahirkan suatu kemampuan untuk menyikapi situasi dengan keberpihakkan pada masyarakat.

Di petakan dalam suasana Natal yang tengah berlangsung dan mungkin sebentar lagi euphoria-euphoria ini akan surut, saya percaya bahwa gema suara malaikat akan tetap terdengar. Kutipan singkat di atas (Gustavo Guterez) saya rasa cukup dan bahkan sangat mendalam untuk menyimpulkan apa yang harus kita lakukan baik secara individu, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari prinsip “iman yang hidup”, maupun secara kolektif sebagai bentuk manifestasi dari identitas kita sebagai manusia yang ber-Tuhan dan terlebih ber-agama.

Semoga tulisan singkat ini mampu dimaknai oleh teman-teman pembaca untuk kemudian dapat diteruskan kedalam diskusi dan aksi. Selamat Natal dan Tahun Baru.Terima Kasih.

“If faith is a commitment to God and to human beings, it is not possible to believe in today’s world without a commitment to the process of liberation”