Berbicara tentang teori marxis dalam studi Hubungan Internasional maka kita akan membaginya dalam 4 bagian. Adapun 4 bagian tersebut yaitu Marxisme Ortodoks, Leninisme, NeoMarxis (Immanuel Wallerstein), dan Gramscian.
• Marxisme Ortodoks
Dalam perspektif Marx, masyarakat selalu mengalami situsasi yang kontradiktif. Hal ini sangat berbeda dengan pandangan kaum liberal yang mengasumsikan suatu perubahan social akan selalu bergerak kearah keseimbangan (baca:equilibrium). Di zaman komunal primitive, ketika corak produksi dicirikan dengan masa berburu, meramu, dan mengumpulkan makanan ;maka kehadiran suatu institusi yang mencakup kesatuan wilayah geografis dan berfungsi menjamin hak kepemilikan individu tidak terlalu dibutuhkan karena asumsinya semua kebutuhan disediakan oleh alam dan masing-masing mempunyai hak untuk memanfaatkannya sesuai dengan kapabilitas masing-masing.
Negara berdiri sejalan dengan perkembangan kapitalisme. Pertukaran pasar tidak mungkin terjadi tanpa adanya kepemilikan pribadi yang jelas. Di dalam pertukaran pasar, selain terjadi pertukaran komoditas, pada dasanya juga terjadi pertukaran hak milik (private property) yang berbentuk sertifikat. Dalam hal inilah Negara menjalankan fungsinya dalam arti bahwa Negara hadir untuk melindungi kepemilikan pribadi dengan menciptakan segenap regulasi. Kepemilikan pribadi akan mendukung terciptanya system pasar dan berikutnya system pasar akan mendukung akumulasi capital. Marx kemudian juga menganalisis kehancuran kapitalisme. Kapitalisme dalam pandangan Marx mengandung pengrusakan dari dalam yaitu yang ditandai dengan perlawanan kaum proletar terhadap kaum kapitalis yang menerapkan mode produksi yang exploitative serta over produksi. Dalam Studi HI, Analisis Marxisme Klasik sebenarnya lebih bertendensi pada situasi domestik
• Leninisme
Gagasan Vladimir Ilryc Lenin dalam konstruksi teori imperialisme memberikan sumbangsih dalam analisis politik internasional. Berakar dari Materialisme Dialektika Historis, Lenin menemukan bahwa pada saat masyarakat Eropa berada dalam fase merkantilisme terlebih pasca Revolusi Industri di Inggris, ekspansi capital ke berbagai belahan dunia pun terjadi. Dalam karyanya, Imperialism : The Highest Stage of Capitalism, ia mengatakan bahwa telah terjadi kepenatan pasar atau daerah hasil pemasaran industry dan krisis bahan dasar penunjang industru telah mendorong bangsa Eropa melakukan imperialisme. Konflik antar Negara kapitalis akan terjadi seiring dengan perluasan pangsa pasar yang dilakukan oleh masing-masing Negara. Melalui lembaga-lembaga internasional yang dibentuk, peleburan gagasan liberalism dengan corak produksi kapitalistik melahirkan suatu pembabakan dalam ekonomi politik yang kemudian dikenal dengan istilah imperialisme.
• Neo-Marxis (Immanuel Wallerstein dalam World System Theory)
Berakar dari Teori Marxis yang berisi tentang pengelompokan kelas (borjuis dan proletar) serta penghisapan nilai lebih, Immanuel Wallerstein mencoba memodifikasinya lewat Teori Sistem Dunia. Dalam teori system dunia yang dikemukakan oleh Immanuel Wallerstein dari kelompok Neo-Marxis, dikatakan bahwa pada dasarnya dunia terbagi atas 2 kontinental yaitu wilayah Utara-Selatan.
Wilayah Utara (Centre) dicirikan sebagai Negara Industri Maju dengan karakteristik sbb :
Basis kegiatan produksi pada sector teknologi tinggi
Ekspor barang-barang manufaktur /komoditas sekunder
Sistem demokrasi yang stabil
Kawasan ini menjadi tujuan ekspor barang mentah / barang setengah jadi dari Negara periphery dan semi periphery
Contoh Negara yang masuk dalam kategori Centre : London, Tokyo, AS, New York
Wilayah Selatan (Peryphery) dicirikan sebagai Negara berkembang memiliki karakteristik :
Demokrasi yang tidak stabil dan dipimpin oleh rezim otoriter
Sistem ekonomi bertumpu pada sector ekspor primer
Belum menemukan corak produksi secara pasti
Contoh Negara yang masuk dalam kategori Peryphery : Thailand, Malaysia, Indonesia
Negara semi-peryphery memiliki karakteristik sbb :
Demokrasi yang belum stabil
Pada umumnya melakukan impor barang mentah dan barang setengah jadi tetapi juga mengekspor produk manufaktur yang bersifat padat karya (bukan teknologi tinggi : produk kosmetik,dll)
Wilayah ini menjadi lokasi dan relokasi Negara-negara pusat (Centre)
Contoh Negara yang masuk dalam kategori semi-peryphery : Korea Selatan, Hongkong, Taiwan
Teori Sistem Dunia berangkat dari argument bahwa seiring dengan perkembangan kapitalisme internasional, dunia terbagi kedalam tiga kelas tersebut (Centre, Pherypery, dan Semi-Pheryphery). Dalam system dunia seperti yang telah dianalogikan tersebut, Negara Pusat mengeksploitasi Negara pinggiran melalui Negara semi-peryphery. Kecendrungan ini kemudian berakibat pada mengalirnya sumber kekayaan Negara pinggiran ke Negara pusat tanpa dibarengi dengan laju pertumbuhan ekonomi di Negara pinggiran.
• Gramscian
Salah satu pemikir dalam kelompok neo-marxis ialah Antonio Gramsci. Dalam kumpulan catatan yang dibukukan menjadi The Prison Notebooks, Gramsci cenderung menganalisis perubahan di tatanan ide/gagasan. Melalui pisau analisis Gramscian, kita mampu menemukan jawaban mengapa Negara pinggiran seperti yang terkonsep dalam Teori Sistem Dunia seolah menerima begitu saja eksploitasi yang dilakukan oleh Negara Pusat / NIM.
Dalam pandangan gramsci, kapitalisme sendiri telah berhasil termodifikasi baik di tingkatan strategis maupun taktis. Akibatnya, consensus antara NKB dengan NIM pun mampu dikonstruksikan. Konsensus itu adalah diterimanya ideology laisez faire dalam kesadaran kolektif sebagai sesuatu yang mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh system Negara.
Bagaimana ide-ide kapitalisme tersebut kemudian mampu terkonsolidasikan ? Dalam Teori Hegemoni, Gramsci mengatakan bahwa perubahan kebijakan Negara dapat dianalisis di tingkatan ide yang melatarbelakanginya. Dalam penyebaran ide inilah, Negara Maju atau Negara Kapitalis melakukan hegemoni terhadap ide-ide lain yang khususnya membawa kesadaran revolusioner untuk menentang kapitalisme. Hegemoni dijalankan lewat institusi-institusi internasional seperti World Bank, IMF, WTO, dsb hingga sampai pada tingkatan domestic Negara Berkembang semisal lewat institusi pendidikan dan pers. Penanaman gagasan dalam konstruksi pikiran masyarakat inilah yang dipercaya mampu melanggengkan eksploitasi serta akumulasi capital.
Gramsci juga mengatakan bahwa untuk bertahan dari serangan ide-ide ataupun orientasi psikologis yang hendak dibangun, Negara Berkembang harus mampu menciptakan blok historis baru. Satu-satunya unsure yang dianggap potensial dalam menciptakan blok historis baru tersebut ialah kaum intelektual organic yang mampu menjadi agent of change dan memiliki keberpihakkan pada masyarakat.
Contoh analisis gramscian dapat dipakai ketika tahun 1990an. Pada waktu itu dalam konteks global telah tercipta ruang diskursus mengenai Free Trade atau Free Market yang di blow up lewat media massa. Akibatnya pada waktu itu, disemua tingkatan wilayah berbicara mengenai liberalisasi. Alhasil pada tahun 1993 lahirlah GATT.
Referensi :
Dr.Mohtar Mas’oed, Ekonomi,Politik Internasional dan Pembangunan, 2003, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Robert Jackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, 2005, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, 1999, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

0 comments:
Post a Comment