Materi memenuhi ruang. Itulah kalimat sederhana yang saya pikir cukup menjadi analogi bahwa kita pun berada dalam ruang. Dan dalam hal ini kesadaran akan penghuni ruang mengantar saya pada refleksi mengenai sejauh mana hari ini kita mengenali ruang tempat kita berproses.
Kita mengenal organisasi baik dalam lingkup yang paling kecil dan lunak hingga yang besar dan rumit. Saya generalkan disini kita tentu mengenal yang namanya keluarga,tetangga,komunitas,organisasi profesi,dan predikat warga Negara sebagai wujud dari pengelompokkan kita didalam ruang yang dilabelkan hari ini sebagai Indonesia. Tulisan singkat ini tidak hendak memetakan secara komprehensif mengenai sebab-akibat ataupun memberikan preskripsi mengenai latar belakang situasi social politik di ruang Indonesia, namun hanya merupakan celotehan ringan mengenai “apa kabar Indonesia hari ini”.
Dalam tulisan Charles Olson pada pertengahan 1948 yang bertajuk Notes for the Proposition: Man is Prospective, ia mengatakan bahwa “Ruang adalah tanda dari sejarah baru, dan ukuran kerja yang sekarang sedang dilakukan adalah merupakan kedalaman persepsi akan ruang, keduanya sebagai obyek dan isi ruang, melawan waktu, rahasia-rahasia humanitas terlunak pelan-pelan dari bagian sempit kekinian…manusia sebagai objek,bukan sebagai massa bilangan ekonomi (mass of economic integer), adalah bibit terpendam dalam semua bentuk aksi kolektif yang berakar dari Marx”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment