Apa bedanya memendam dengan meredam ? Kenapa harus ada kata seperti itu dalam bahasa manusia ? oh bukan, tepatnya kenapa nuansa seperti itu harus muncul dan dibahasakan ? Ya, itulah yang kupikir menjadi spirit dalam puisi ataupun sajak-sajak. Sampah.
Harus ku akui,aku mulai bosan dengan kata “tapi”. Kata yang slalu kugunakan untuk coba memberi perbedaan antara imaji dan realita. Oh jangan-jangan dunia mengerti, tidak mudah dan bukanlah suatu kesengajaan kalau aku adalah orang yang gemar menghias kata pengantar. Aku mengantar diriku sendiri, dengan ingatan cukup tentang apa yg harus kubawa ke tempatnya. Tugas klasik sebenarnya; mengantar. Penghantar ? Media ? Jembatan ? adalah 3 kata yang kutemukan pagi ini. Aku berbuat, aku menjadi, dan aku sebagai. Perlahan mulai ketemu benang merahnya.
Dan ya,memendam ataupun meredam pun terjelaskan. Pernah berdiri di bawah jembatan atau diatas fly over ? Coba hitung berapa getaran yang tercipta saat ribuan kendaraan melintas melaluinya. Di pangkal,diantara sambungan,dan diujung jembatan adalah titik-titik dimana getaran menggema. Sayang jembatan tak bicara, dari kecil aku percaya bahwa kerja dan hasil kerja adalah aktualisasi dari manusianya. Kalau jembatan adalah versi beta dari perancangnya, mungkin dalam batas waktu tertentu ia tentu mengeluh. Akh…mengeluh pun terlalu jauh, andai saja ia sudi mengucap satu kata saja,seperti “aw….” atau “aduh…”. Bukan untuk member isyarat atau sekedar membenarkan potongan-potongan hikmah (sungguh aku benci kata hikmah,membuat manusia teralienasi) yang mau kususun pagi ini, tapi kadang kita (oke,AKU !!) memang rindu ingin merekayasa kehidupan dalam taraf yang lebih sederhana.
Dalam dialog sebuah drama korea yang dulu pernah kutonton dan sampai hari ini masih jadi salah satu yang terbaik, seorang kakek bilang kepada seorang gadis muda; “You know what Fate is ? building a bridge of chance for someone you love…” setelah si gadis berargumen “If we were destined to meet, then we’d meet by chance somewhere..” Aku hanya penikmat kata pada waktu menonton film ini pertama kali, lalu pagi ini aku menjadi pemberi makna.
Aku berharap akan selalu mengingat makna sebuah jembatan dalam ketegaran bercampur keengganan untuk kutulis dan kusimpulkan pada catatanku kali ini. Aku hanya ingin bilang bahwa aku membuat, aku menjadi, dan aku mengantar telah membawaku memahami kata getaran. Getaran memastikan apa yang dibawa, meski hanya secuil ingatan, sedang menuju ketempatnya. Memahami indahnya meredam disela memendam. Ku harap aku dan kita mengerti manisku.
-Yogya,8 Desember 2010-

0 comments:
Post a Comment