the art of "ffhuuuhhh...."

|
                   
“hhhhmmmmmmm…” 


adalah ekspresi yang pantas untuk disandingkan dengan detik-detik setelah menyeruput secangkir kopi hangat. Seperti jeda kosong diantara playlist lagu pada pita kaset, menikmati segelas kopi disela ketidakpastian beruntun memang sangatlah sayang bila dilewatkan. Hembusan nafas seperti “ffhuuuhh…” yang keluar bersama gumpalan asap rokok juga merupakan momen yang jarang sekali bisa dibahasakan dengan sempurna.

Ini malam bersama seorang kawan,   saya ngobrol disebuah kedai kopi terkenal di Yogyakarta. Kopi Joss. Letaknya persis disebelah utara stasiun K.A Tugu. Kita berbincang banyak hal, mulai dari situasi politik, peluang wirausaha, buku atau film-film terbaru hingga ke topik-topik random lainnya.

Tidak banyak yang bisa saya tuliskan disini, namun satu hal yang menarik saat saya bercerita tentang keragu-raguan saya akan satu hal, dia meraih sendok pada gelas kopinya. Mengaduk-ngaduk kopi yang bisa dibilang sudah setengah dingin lalu menyisihkan satu gumpalan arang yang ada dalam gelas. Seperti seorang filsuf Athena, ia membakar batang rokok yang kesekian, dan berucap “fffuuuhhhh…”


Sambil memantapkan pandangan kesatu titik yang entah apa itu, dia mulai bicara kira-kira seperti ini : “Kau jangan terlalu banyak berpikir karena itu bisa membuat kau ragu sendiri akan pilihanmu. Di dunia ini tidak ada yang tidak buruk. Lakukan saja apa yang bisa membuat kau nyaman. Orang jungkir balik ke masjid, ke gereja, cuma untuk cari nyaman.”

Kawan saya itu benar. Jika dilihat lagi ke belakang, memang tidak ada lagi alasan untuk tidak mengatakan hidup ini keras, bahkan kadang kejam. Kejam dalam pengertian betapa banyak hal-hal buruk terjadi diluar kehendak kita. Coba bayangkan, hal-hal buruk apa yang belum pernah terjadi di dunia ini ? Dikecewakan, ditinggalkan, dikhianati, kehilangan, sakit fisik, kegagalan, dsb. Hal-hal seperti itu pernah terjadi bukan ? Dan mungkin masih saja akan terjadi !

Menyadari hal inilah, sejenak untuk mengalirkan ‘semuanya’ lewat ekspresi “hmmmm….” dan sesekali melempar senyum diikuti hembusan nafas bebas “ffhhuuhhh….” saya anggap perlu. Bukan sebagai ungkapan mengeluh, bukan untuk menyesal, tapi ungkapan penerimaan bahwa, bahwa atas hal buruk apapun yang terjadi (dan mungkin akan terjadi) saya hanya cukup tersenyum dan bilang : “kamu tuh ya…udah dikalahin terus masih juga gak kapok-kapok ngajak tanding ulang….heuheuheu…”

Kopi habis, sebelum pulang, saya mengetik puisi ini pada iPad barunya.
Selamat berjuang dalam dunia para prajurit, kawan. :)






Out of the night that covers me, black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
In the fell clutch of circumstance, I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeoning of chance, my head is bloody, but unbowed.
Beyond this place of wrath and tears, looms but the horror of the shade,
And yet the menace of the years finds and shall find me unafraid.
It matters not how strait the gate,
how charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.


*Puisi berjudul Invictus, ditulis oleh William Ernest Henley
Puisi ini menjadi salah satu inspirasi Nelson Mandela dalam hidup dan karya-karyanya.

2 comments:

fadfadd said...

kakkkksssss.... b rasa ini talalu kemboooo aa... mantap dobel2... kikiki kakakaka

patrickdiaz said...

ah iyo ka ? kemboo kramana adek ? heuheu..
btw thx ya fadfad sudah nyempatin buat main2 kesini... :)

Post a Comment