benturan yang mendewasakan.

|
Entri ini saya tulis saat pulang dari acara rutin (saya harus jujur saat bilang ini 'acara rutin') ngumpul bersama kawan-kawan SMA di malam minggu. Biasanya kita membunuh waktu dengan mengunjungi satu persatu kos kawan-kawan,mengajak bergabung,menentukan tempat nongkrong (walupoun monoton apa yg dimaksud tempat nongkrong) yang biasanya tidak jauh dari kedai-kedai kopi dengan aroma dan sapaan hangat angin malam jogjakarta. Kita biasa berbincang tentang apa saja, yang pasti tidak soal yang terlalu melibatkan perasaan sebagai alat analisis. Perasaan cenderung bermain di wilayah regional;antar 2 atau 3 orang saja. Jika sudah berkumpul, kita lebih sering menggunakan logika sebagai benteng tipis dari rapuhnya perasaan. Hahahaha...ijinkan saya tertawa kawan... :))
Namun disela-sela gurauan, pikiran masih menggantung setelah terakhir saya putuskan untuk selesai BAB tadi sore terlintas. Dan setelah sampai di kos, saya pikir cukup menarik jika saya tuangkan di situs ini....

Saya mahasiswa semester akhir yang tengah bergelut dengan Trending Topic sekaligus isu krusial abad 21 setelah isu rasisme dan pluralisme ---> skripsi. Tidak bisa dipungkiri, namun isu ini yang kemudian menghantarkan saya untuk mampu mensistematiskan (setidaknya menurut saya) pemikiran-pemikiran segar yang kerap kali muncul. Pemikiran yang tidak pernah jauh dari soal karakter building. Kau mungkin pernah paham seperti apa motor yang mengaung menunggu kopling untuk dilepas. Itulah yang kurasakan, melihat energi pupus dilibat habis oleh waktu sedang ladang harapan tak pernah dihampiri benih. STOP.



Saya percaya hukum pertautan,hukum dialektika. Hal baru akan selalu hadir dari pertentangan antara 2 hal atau lebih. Dulu sewaktu friendster masih populer, saya ingat betul, pernah sesekali saya menulis "benturan ini mendewasakan". Dengan kata lain, benturan adalah bukti nyata adanya pertentangan.

Mungkin banyak juga yang pernah membahasakan seperti apa benturan itu dalam kaitannya dengan hukum pertentangan (dialektika); sama banyaknya dengan yang tidak pernah mau ambil pusing dengan bahasa-bahasa akademis sampah kayak begini. Who knows ! *edisiLabil* :)
Ada banyak tipe-tipe manusia yang menyiasati atau minimal mengerti seperti apa mereka memandang yang namanya hukum perubahan dalam kaitannya dengan proses 'kemajuan'. Saya hanya punya 2 tipe, mudah-mudahan cukup dan berguna sebagai bahan perbandingan kawan-kawan.

Tipe pertama, manusia yang butuh benturan secara nyata untuk bisa memaksa 'inovasi diri' survive dan muncul sebagai pemenang. Karakter seperti ini kadang dan bahkan sering berada dalam kondisi 'unmotivated'. Bisa dikarenakan terlampau nyaman dengan keadaan sehingga malas untuk menghampiri dan menyesuaikan sebuah situasi baru namun bisa juga karena percaya . Ia percaya akan efektifitasnya benturan (dalam bahasa sehari-hari sebut saja masalah) sama seperti ia percaya benturan akan muncul suatu saat. Hanya saja karena sudah terlampau lama tidak terlibat dalam proses seleksi alam di tingkatan logika dan perasaan, definisi benturannya mulai kendor dan kabur. BUKAN berarti tidak peracaya benturan, Ia hanya peka pada benturan yang besar.
Saya berikan satu contoh,ada orang yang 'belum' sembuh dari patah hati, atau ada orang yang 'belum' menyelesaikan tanggung jawab tugas/beban/skripsi. Karena menganggap belum ada benturan yang mampu merebut statusquo, sesuatu yang tertunda tersebut difasilitasi 'tambahan waktu' oleh yang bersangkutan. Mungkin ia berpikir, belum ada benefit yang bisa diperoleh agar sebanding dengan apa yang mungkin telah dan akan mereka kobankan.
Tiba-tiba si 'patah hati' atau si 'penanggung jawab tugas/penulis skripsi' tadi punya masalah baru, misalnya terjebak hutang besar-besaran. Nah...tanpa disadari mereka mulai mengalihkan concern logika dan perasaan untuk 'bagaimana caranya menyelesaikan problem 'si perebut statusquo' ini. Memang tidak ada yang bisa menjamin bagaimana dinamika kedepan yang dihadapi mereka dalam menyelesaikan problem hutang besar-besaran ini. Namun perubahan situasi ini lah yang memunculkan 'kesadaran' akan 'benturan'. Beberapa dari mereka sembuh dari unmotivated dan beberapa memutuskan pulang kembali ke zona nyaman.

Tipe Kedua adalah ia yang mampu merekayasa 'benturan'. Ia hidup atas asumsi dan persepsi. Benturan selalu ada dalam kerangka berpikir dan perasaannya. Memang hampir mirip dengan istilah 'hidup di bawah tekanan', namun tekanan yang ia konsep sendiri dan selalu ia sesuaikan dengan kapasitasnya. Ia mampu memotivasi diri dan lebih tepatnya mampu menentukan motiv apa yang diperlukan sebagai fondasi dari rekayasa benturannya. Contohnya adalah orang yang membangun motivasi bahwa 'hidup tidak mudah', 'persaingan makin ketat', 'saya optimis kesuksesan menyediakan tempat buat saya', dsb.

Dalam kedua tipe yang saya paparkan tersebut, tidak ada yang mampu menjamin mana yang akan bekerja lebih baik jika diterapkan. Saya memang masih belajar untuk menempatkan pisau mana yang harus saya pakai kalo 'seleksi alam internal' itu memang akan dan pasti muncul.

*NB. Jujur saya heran kenapa saya bisa memaparkan tipe pertama dengan sangat panjang. :))

0 comments:

Post a Comment