Erric Fromm (The Art of Loving)

|
Cinta pertama-tama bukanlah hubungan dengan pribadi tertentu.
Cinta adalah sikap;
suatu orientasi karakter yang menentukan jalinan seorang pribadi dengan dunia secara keseluruhan
bukan pada satu obyek cinta.
Karena tidak melihat bahwa cinta adalah sebuah aktivitas, kekuatan jiwa,
maka sebagian orang percaya bahwa yang terpenting dalam hal cinta ialah bagaimana menemukan
obyek cinta yang tepat.

untuk bung erric fromm : sepakat lah...hehehehe

Menelusuri Neoliberalisme.

|
Mungkin tulisan singkat ini bisa berangkat dari pertanyaan “mengapa kebijakan ekonomi pasar bebas ekstrim disebut Neoliberal ?”
Jawabannya tidak terletak pada ilmu ekonomi murni, tetapi pada sebuah pandangan tentang kaitan antara manusia dan masyarakat. Ini merupakan persoalan di ranah filsafat politik. Barangkali filsuf politik yang cukup lengkap membahas tentang landasan yang berkaitan dengan spirit neoliberalisme adalah Friedrich Von Hayek (1899-1992).
Dalam tulisannya, Hayek mengatakan bahwa “tatanan dapat terbentuk dengan sendirinya dari tindakan-tindakan bebas yang oleh para pelakunya tidak dimaksudkan secara sadar untuk membentuk tatanan”. Wujud dari gagasan Hayek adalah semisal tatanan yang dapat kita contohkan dengan “bangsa Indonesia” terbentuk secara alami bukan dari keinginan seorang akuntan, atau seorang buruh pabrik, atau seorang mahasiswa, atau seorang pegawai negeri, atau seorang pedagang yang melakukan kegiatan produksi mereka sehari-hari untuk membentuk sebuah bangsa Indonesia. Namun melalui pengorganisasian kegiatan-kegiatan produksi ini lah terbentuk sebuah tatanan masyarakat yang katakanlah disebut bangsa Indonesia.
Selanjutnya, tindakan-tindakan bebas dari setiap orang tadi tidak dengan sendirinya membentuk sebuah tatanan. Muncul kebutuhan berupa jembatan yang mampu menghubungkan antara tindakan dan sebuah tatanan. Disinilah gagasan Hayek menjelma menjadi program ekonomi, yaitu mendorong ekonomi pasar menuju posisi yang ekstrem. Jika dalam liberalisme klasik diasumsikan bahwa kegiatan ekonomi digerakkan oleh harga (price) dalam dinamika perimpangan supply dan demand, maka gagasan Hayek memakai mekanisme ini bukan hanya untuk mengatur kegiatan ekonomi, tetapi juga politik, hukum, budaya, pendidikan, dan barang atau jasa publik lainnya.
Jika dalam liberalisme klasik manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi / homo economicus (hanya) dalam bidang ekonomi, maka pada agenda Neoliberalisme manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi dalam bidang ekonomi, politik, sosial , budaya, dsb. Pandangan ini tidaklah jauh berbeda dengan fundamentalisme agama yaitu sebuah paham yang berbasis pada doktrin-doktrin agama. Oleh karena itu Neoliberalisme akan lebih tepat jika disebut fundamentalisme pasar.

Apa yang menjadi agenda Neoliberal ? Pertama yaitu melakukan penataan ulang di bidang politik, hukum, budaya, hubungan kerja, pndidikan, kesehatan , dsb. Semuanya harus berjalan dalam satu paradigma bahwa berbagai bidang kegiatan dalam masyarakat harus diasumsikan sebagai kegiatan dengan motif pengejaran kepentingan diri privat. Dengan landasan seperti ini, menjadi logis bila privatisasi, deregulasi, komersialisasi, dan liberalisasi menjadi agenda Neoliberal karena merupakan tujuan akhir dalam paradigma Neoliberalisme.
PS. Resume dari tulisan Herry Priyono, “Sesat Neoliberalisme”, dikutip dari Kompas 28 Mei 2009.

Requim : Senyum Berkabung

|
Jika langit kelak kembali dan mulai kau pahami
Kepakkan gaunmu mengayun turun, karena telah kubangun seribu menara
Dengan riuh cahaya lampu agar kau tahu
Masih menggetar samar jantungku disana dilaut……

Burung burung menjelma perempuan buta yang mencakar gitar diatas sampan;
seribu mantra bersetubuh dengan remang bulan
Dan sesuatu yang terampas dari ingatan tersalib di pematang pasang
Lalu raib menyaru gelombang –
apa yang terbabtis dibalik senyummu hingga segala jerit dari sajak sajakku tak dari jemari maut yang terapung
buntung ?
apa termakhtub dicelah bibirmu hingga ribuan pekik ?

Dawai yang kucabik dengan ingatan seorang penyair sekedar bunyi gaib yang mencair.
aku tahu, igauanku barangkali
Tak berjawab, langit terlalu jauh dan tak mesti ada kabar bagi doa yang bingar !
Tetapi persekutuan yang kau pilih dengan diam,
Diam itu telah menghantarku pada badai lain,
dan aku tak mampu lagi
sembunyi atau sekedar gemetar memandang sampan yang mulai tergenang perlahan ini:

Oh jika remuk kembali langit di celah bibirmu
Jika lepuh seluruh cahaya dari rapuh mantraku
Biar laut menjadi nabi dari segala yang tak berbentuk
Pada segala karam yang terkutuk



*karya Kananta
ini puisi kalo kata anak gaul tuh gue banget lah... :)

Trinitas.

|
aku menghadap ke luar jendela
ke dahan dan rumput yg baru tumbuh
menumbuhkan kerinduan yang sengit;

aku menghadap kepadamu
tak bisa menjerit
Udara adalah satu2nya yg sebanding dengan mu sore ini
yang menjadi nafasku meski ia diam atau menghambur
dan memperlihatkan dirinya menjadi pucuk2 daun

betapa perasaan ini adalah tangan yang meremas hati ku keras2
sampai remuk dan berjatuhan ditubuh impian yg selalu ku pungut lagi
nyaris seperti daun-daun jatuh di pagi hari.

*karya Mrd

refleksi 5 desember 2009

|
pikiran bertindak lahir dari benturan antara pemahaman dan ketidakmengertian.Yang berhasil keluar dari celah halus yang memisahkan antitesis diruang kritisisme filosofis dan riak praksis.Ini bukan tentang idealisme,tapi tentang yang hidup dan yang mati. Hiduplah sebagai yang bebas, yang menciptakan persepsi kebebasan atas belenggu dogmatis.Tapi satu hal yang utama, konsisten lah !

Arms Race and the Development of Nuclear Weapons Technology

|

Arms Race phenomenon begins to color the dynamics of politics among nations in an era called Cold War. At that time, for the interest of 2 superpower countries, the United States and Soviet Union try to spread their influence by making regional block. Each power tries to support military needs in each allied countries. History told us that the establishment of the Defense Pact like NATO (North Atlantic Treaty Organization) and Warsaw Pact are the media to achieve both superpower countries interest that cause conflict by proxy between countries that include in United States and Soviet alliances.

After Cold War period marked by the collapse of Soviet Union, conflict in conventional notion are absolutely decreased, but in last 10 years the growth up of military technology in some New Industrial Countries starts to increase. This case was marked by the increase of military budget and military technological advance.

To grasp this phenomenon, we may pose this question: What assumption backgrounds the policies made by the countries when they plan to improve their military technology that causes Arms Race Phenomenon?

There are some approaches that can be used to analyze this tendency. One of them is Realism Politics Paradigm. Realism Paradigm says that international political condition is always in anarchism. Country is always assumed as a threatened subject in this anarchism condition. Realism suggests that it is important for every country to build a military capacity in order to anticipate the aggressive behavior of other countries. From this perspective, whenever the improvement of military capacity becomes the chief instrument of many countries in international constellation, so the arms race phenomenon is inevitable. It is said so because every country tries to create a kind of deterrence to avoid military invasion of other countries.

For example, South Korea is enthusiastically improving their nuclear weapon technology in these last 5 years. So are the USA and Russia which are massively and consistently do the same effort such as the developing of intercontinental weapons. This happens due to the policy to secure the country from other’s threat. The perception on threat can be varied in many forms. One of them is the geopolitical consideration and other factors which are assumed can be attained if a country has a good military capability. Nuclear weapons have been proven to the world as the best bargaining power.

How far do we agree with the effort of military improvement? I think it is not ultimately needed due to the deterrence from other countries. I believe in this assumption since the conventional war is rarely happened. Instead of military capability, there are many other factors that can be utilized by Indonesia as the bargaining power in international constellation. One of them is by developing the economic capability. Military improvement must not be the main priority. I think the first attention should go to the social welfare of the members of Indonesian society i.e., the Indonesian citizens.

Mahameru (26 Oktober 2009)

|
Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa

sedikit tentang marxisme dalam studi HI

|
Berbicara tentang teori marxis dalam studi Hubungan Internasional maka kita akan membaginya dalam 4 bagian. Adapun 4 bagian tersebut yaitu Marxisme Ortodoks, Leninisme, NeoMarxis (Immanuel Wallerstein), dan Gramscian.

• Marxisme Ortodoks
Dalam perspektif Marx, masyarakat selalu mengalami situsasi yang kontradiktif. Hal ini sangat berbeda dengan pandangan kaum liberal yang mengasumsikan suatu perubahan social akan selalu bergerak kearah keseimbangan (baca:equilibrium). Di zaman komunal primitive, ketika corak produksi dicirikan dengan masa berburu, meramu, dan mengumpulkan makanan ;maka kehadiran suatu institusi yang mencakup kesatuan wilayah geografis dan berfungsi menjamin hak kepemilikan individu tidak terlalu dibutuhkan karena asumsinya semua kebutuhan disediakan oleh alam dan masing-masing mempunyai hak untuk memanfaatkannya sesuai dengan kapabilitas masing-masing.

Negara berdiri sejalan dengan perkembangan kapitalisme. Pertukaran pasar tidak mungkin terjadi tanpa adanya kepemilikan pribadi yang jelas. Di dalam pertukaran pasar, selain terjadi pertukaran komoditas, pada dasanya juga terjadi pertukaran hak milik (private property) yang berbentuk sertifikat. Dalam hal inilah Negara menjalankan fungsinya dalam arti bahwa Negara hadir untuk melindungi kepemilikan pribadi dengan menciptakan segenap regulasi. Kepemilikan pribadi akan mendukung terciptanya system pasar dan berikutnya system pasar akan mendukung akumulasi capital. Marx kemudian juga menganalisis kehancuran kapitalisme. Kapitalisme dalam pandangan Marx mengandung pengrusakan dari dalam yaitu yang ditandai dengan perlawanan kaum proletar terhadap kaum kapitalis yang menerapkan mode produksi yang exploitative serta over produksi. Dalam Studi HI, Analisis Marxisme Klasik sebenarnya lebih bertendensi pada situasi domestik


• Leninisme
Gagasan Vladimir Ilryc Lenin dalam konstruksi teori imperialisme memberikan sumbangsih dalam analisis politik internasional. Berakar dari Materialisme Dialektika Historis, Lenin menemukan bahwa pada saat masyarakat Eropa berada dalam fase merkantilisme terlebih pasca Revolusi Industri di Inggris, ekspansi capital ke berbagai belahan dunia pun terjadi. Dalam karyanya, Imperialism : The Highest Stage of Capitalism, ia mengatakan bahwa telah terjadi kepenatan pasar atau daerah hasil pemasaran industry dan krisis bahan dasar penunjang industru telah mendorong bangsa Eropa melakukan imperialisme. Konflik antar Negara kapitalis akan terjadi seiring dengan perluasan pangsa pasar yang dilakukan oleh masing-masing Negara. Melalui lembaga-lembaga internasional yang dibentuk, peleburan gagasan liberalism dengan corak produksi kapitalistik melahirkan suatu pembabakan dalam ekonomi politik yang kemudian dikenal dengan istilah imperialisme.

• Neo-Marxis (Immanuel Wallerstein dalam World System Theory)
Berakar dari Teori Marxis yang berisi tentang pengelompokan kelas (borjuis dan proletar) serta penghisapan nilai lebih, Immanuel Wallerstein mencoba memodifikasinya lewat Teori Sistem Dunia. Dalam teori system dunia yang dikemukakan oleh Immanuel Wallerstein dari kelompok Neo-Marxis, dikatakan bahwa pada dasarnya dunia terbagi atas 2 kontinental yaitu wilayah Utara-Selatan.
Wilayah Utara (Centre) dicirikan sebagai Negara Industri Maju dengan karakteristik sbb :
 Basis kegiatan produksi pada sector teknologi tinggi
 Ekspor barang-barang manufaktur /komoditas sekunder
 Sistem demokrasi yang stabil
 Kawasan ini menjadi tujuan ekspor barang mentah / barang setengah jadi dari Negara periphery dan semi periphery
Contoh Negara yang masuk dalam kategori Centre : London, Tokyo, AS, New York

Wilayah Selatan (Peryphery) dicirikan sebagai Negara berkembang memiliki karakteristik :
 Demokrasi yang tidak stabil dan dipimpin oleh rezim otoriter
 Sistem ekonomi bertumpu pada sector ekspor primer
 Belum menemukan corak produksi secara pasti
Contoh Negara yang masuk dalam kategori Peryphery : Thailand, Malaysia, Indonesia

Negara semi-peryphery memiliki karakteristik sbb :
 Demokrasi yang belum stabil
 Pada umumnya melakukan impor barang mentah dan barang setengah jadi tetapi juga mengekspor produk manufaktur yang bersifat padat karya (bukan teknologi tinggi : produk kosmetik,dll)
 Wilayah ini menjadi lokasi dan relokasi Negara-negara pusat (Centre)
Contoh Negara yang masuk dalam kategori semi-peryphery : Korea Selatan, Hongkong, Taiwan

Teori Sistem Dunia berangkat dari argument bahwa seiring dengan perkembangan kapitalisme internasional, dunia terbagi kedalam tiga kelas tersebut (Centre, Pherypery, dan Semi-Pheryphery). Dalam system dunia seperti yang telah dianalogikan tersebut, Negara Pusat mengeksploitasi Negara pinggiran melalui Negara semi-peryphery. Kecendrungan ini kemudian berakibat pada mengalirnya sumber kekayaan Negara pinggiran ke Negara pusat tanpa dibarengi dengan laju pertumbuhan ekonomi di Negara pinggiran.


• Gramscian
Salah satu pemikir dalam kelompok neo-marxis ialah Antonio Gramsci. Dalam kumpulan catatan yang dibukukan menjadi The Prison Notebooks, Gramsci cenderung menganalisis perubahan di tatanan ide/gagasan. Melalui pisau analisis Gramscian, kita mampu menemukan jawaban mengapa Negara pinggiran seperti yang terkonsep dalam Teori Sistem Dunia seolah menerima begitu saja eksploitasi yang dilakukan oleh Negara Pusat / NIM.
Dalam pandangan gramsci, kapitalisme sendiri telah berhasil termodifikasi baik di tingkatan strategis maupun taktis. Akibatnya, consensus antara NKB dengan NIM pun mampu dikonstruksikan. Konsensus itu adalah diterimanya ideology laisez faire dalam kesadaran kolektif sebagai sesuatu yang mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh system Negara.
Bagaimana ide-ide kapitalisme tersebut kemudian mampu terkonsolidasikan ? Dalam Teori Hegemoni, Gramsci mengatakan bahwa perubahan kebijakan Negara dapat dianalisis di tingkatan ide yang melatarbelakanginya. Dalam penyebaran ide inilah, Negara Maju atau Negara Kapitalis melakukan hegemoni terhadap ide-ide lain yang khususnya membawa kesadaran revolusioner untuk menentang kapitalisme. Hegemoni dijalankan lewat institusi-institusi internasional seperti World Bank, IMF, WTO, dsb hingga sampai pada tingkatan domestic Negara Berkembang semisal lewat institusi pendidikan dan pers. Penanaman gagasan dalam konstruksi pikiran masyarakat inilah yang dipercaya mampu melanggengkan eksploitasi serta akumulasi capital.
Gramsci juga mengatakan bahwa untuk bertahan dari serangan ide-ide ataupun orientasi psikologis yang hendak dibangun, Negara Berkembang harus mampu menciptakan blok historis baru. Satu-satunya unsure yang dianggap potensial dalam menciptakan blok historis baru tersebut ialah kaum intelektual organic yang mampu menjadi agent of change dan memiliki keberpihakkan pada masyarakat.
Contoh analisis gramscian dapat dipakai ketika tahun 1990an. Pada waktu itu dalam konteks global telah tercipta ruang diskursus mengenai Free Trade atau Free Market yang di blow up lewat media massa. Akibatnya pada waktu itu, disemua tingkatan wilayah berbicara mengenai liberalisasi. Alhasil pada tahun 1993 lahirlah GATT.

Referensi :
Dr.Mohtar Mas’oed, Ekonomi,Politik Internasional dan Pembangunan, 2003, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Robert Jackson & George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, 2005, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, 1999, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

a short essay

|
Developing countries have often made mistake by abandoning traditional methods and replacing them with modern technology.

Every change basically has certain effect regardless it is good or bad. In this occasion I try to discuss one of the bad effects as the consequence of a change. Actually a country always makes a change in order to create prosperity for its citizens.

Developing countries usually strive for changes in some sectors, such as economy improvement, defense and security, social-welfare, science and technology. Of course in the struggle of making change and renewal, negative effects are inevitable. One of them is the disappearance of the cultural tradition value which shows national identity.

As an example, I highlight the analysis of a prominent phenomenon we face nowadays: the emergence of many malls, supermarket, and franchise business of foreign product that unconsciously have replaced the capacity and capability of our traditional market. Twice a week or once a month at minimum one of us might go to the mall or supermarket for shopping or just for sightseeing.

We feel so comfortable when we are in the mall. We can enjoy many kinds of technological advance and different services provided by them, such as : Escalator technology that make all customers do not need to walk from downstairs to the 4th floor.Central Air Conditioner that makes room temperature becomes more chilly and fresh, Enjoying unlimited internet access technology, Cashier machine technology which can count all the items purchased more quickly and accurately, Knowing all the newest and trendiest clothing model
We can find out every item of our daily needs in the existing outlets such as private needs, clothing, shoes, beauty salon, fast food, and the likeAnd especially for those who want to look for beautiful girls, there are many Sales Promotion Girls in the Mall.

Apart from all of those phenomena, do we ever think the fate of trader and traditional market which is also part of this nation? Even just for buying 1kg of lemon, people will go far to a mall, even though if the fruits sold in the mall are not the product of our local farmers. If the practices as I said before go on in their way, how we can say “love and use our national product?”

A trendsetter image that is offered by mall has made Indonesian people become much more consumptive. Even though if we observe deeply, there will be many advantages if we buy goods in traditional market, such as :
  1. Reasonable prize
  2. In bargaining, we learn how to communicate with others and improve our brotherhood based on a direct face-to-face meeting.
  3. Knowing our national products like handicraft, special food or snack and the like
  4. Learning how to be hospitable and friendly with other because friendliness is one of our ntional characteristics.

Foreign tourists are usually interested in Indonesia because we still preserve national culture besides to visit tourism objects. Shopping in traditional market, we will show how Indonesian people try to preserve national culture. I am sure that it will be special interest for them. In this case, our government especially the local government should consider the effects of the establishment of modern shopping centre towards the existence of our traditional market and its traders.

Our government should pay more attention to the affectivity level of micro economy and the formation of public opinion. They should not only calculate tax, investment and benefits those are received from modern shopping centre.

To solve this problem, they can impose certain regulation on the schedule of the ‘open day’ and the amount of mall development. From all the examples I told above, it’s normal that there will be negative effects as a result of alteration or change especially in the technology sector.

In developing country, it’s hard to avoid the negative effects of technology that stand in contrast to our traditional culture which we claim as the characteristics of our country. But if there is strong willingness from all people, I am sure these problems can be minimized. China has proved it all.

Tetaplah Melukis

|
Tetaplah melukis "KEKUATAN" diatas MASALAH yang berwujud KANVAS

TAKARLAH warna-warni pengetahuan,ingatan akan pengalaman,kreativitas,
cinta,semangat dan doa..

lalu goreskan takaran dengan kuas yang dipapah oleh TANGAN mu
Tangan seorang lelaki bernama PATRICK

semoga kelak lewat lukisan itu,ada kebahagiaan dihati SEMUA ORANG yg KAU SAYANGI

dan semoga ALLAH juga tersenyum.

mei '09

Cinderamata sore ini

|
Pantai akan kehilangan keindahan ketika gelora ombak air laut dan pasir putih menyatu,
menjadi tenang..
entah satu karena bahasa takdir atau ketika salah satu menaklukan yg lain
dan begitu lah kita manisku
setiap persinggungan ternyata bukan kebutuhan akan kesatuan
yang akan menghapus keindahan itu sendiri
abadilah engkau gairah ombak,
krn kita tidak saling mengikis
ada dan tetaplah ada wahai kau yang disebut pantai
berakarlah dalam ingatan
tentang keindahan agar tetap bisa mereka nikmati


juni '09

Huruf,Sahabat,Kawan.

|
kutinggalkan kau sejenak sahabatku;
huruf-huruf yang selalu ada
karena malam ini tak kutemui hukum baru
untuk memaksamu percaya
engkau bisa berdiri seperti layaknya deretan angka
lalu memihak pada ku

sore tadi kupasung tanganku
agar ia tak lancang menulis
maaf bila kau harus pupus malam ini
kau tidak untuk tinta
tidak saat ini
tidak ada persekutuan kisah bagi kalian !!


jangan menebak
kau terlalu kecil untuk bersanding dengan tiap getar jantungku
juga mataku
kau bisa berkawan dengan mataku
karena ia begitu sempit
patuh pada hukum lama

kesamar-samaran ini
kemenanganku dan dirinya
kami hendak diam saja
diam yang menggetarkan niat tangan seorang pelukis realis
pun dawai gitar harus malu membisu,datar,


seperti candu yang selalu kau berikan juga padaku
kau menuntunku merasa bahwa kita dipersatukan hanya oleh kesedihan
kau salah sahabat.
kau harus salah.
malam ini aku juga membekalimu,
kelak kau sendiri yang akan menikmati kekalahan ku
dan akan kau hujam seperti anak haram dari keindahan yang kau pernah tetapkan.
tunggu dan bayangkanlah gelak tawa kesenangan yang akan kau jemput sendiri


nanti di hari kemenangan,
aku mau menyebutnya begitu,
kalian menurunkan jasad ku;kawan dan sabahatku.
yang terhunus angkuh
biar sekat persinggahan yang berdakwah,
lalu kau bebas bergerak sahabatku;
huruf-hurufku yg hari ini kutinggalkan.


august'09.