Mungkin tulisan singkat ini bisa berangkat dari pertanyaan “mengapa kebijakan ekonomi pasar bebas ekstrim disebut Neoliberal ?”
Jawabannya tidak terletak pada ilmu ekonomi murni, tetapi pada sebuah pandangan tentang kaitan antara manusia dan masyarakat. Ini merupakan persoalan di ranah filsafat politik. Barangkali filsuf politik yang cukup lengkap membahas tentang landasan yang berkaitan dengan spirit neoliberalisme adalah Friedrich Von Hayek (1899-1992).
Dalam tulisannya, Hayek mengatakan bahwa “tatanan dapat terbentuk dengan sendirinya dari tindakan-tindakan bebas yang oleh para pelakunya tidak dimaksudkan secara sadar untuk membentuk tatanan”. Wujud dari gagasan Hayek adalah semisal tatanan yang dapat kita contohkan dengan “bangsa Indonesia” terbentuk secara alami bukan dari keinginan seorang akuntan, atau seorang buruh pabrik, atau seorang mahasiswa, atau seorang pegawai negeri, atau seorang pedagang yang melakukan kegiatan produksi mereka sehari-hari untuk membentuk sebuah bangsa Indonesia. Namun melalui pengorganisasian kegiatan-kegiatan produksi ini lah terbentuk sebuah tatanan masyarakat yang katakanlah disebut bangsa Indonesia.
Selanjutnya, tindakan-tindakan bebas dari setiap orang tadi tidak dengan sendirinya membentuk sebuah tatanan. Muncul kebutuhan berupa jembatan yang mampu menghubungkan antara tindakan dan sebuah tatanan. Disinilah gagasan Hayek menjelma menjadi program ekonomi, yaitu mendorong ekonomi pasar menuju posisi yang ekstrem. Jika dalam liberalisme klasik diasumsikan bahwa kegiatan ekonomi digerakkan oleh harga (price) dalam dinamika perimpangan supply dan demand, maka gagasan Hayek memakai mekanisme ini bukan hanya untuk mengatur kegiatan ekonomi, tetapi juga politik, hukum, budaya, pendidikan, dan barang atau jasa publik lainnya.
Jika dalam liberalisme klasik manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi / homo economicus (hanya) dalam bidang ekonomi, maka pada agenda Neoliberalisme manusia dianggap sebagai makhluk ekonomi dalam bidang ekonomi, politik, sosial , budaya, dsb. Pandangan ini tidaklah jauh berbeda dengan fundamentalisme agama yaitu sebuah paham yang berbasis pada doktrin-doktrin agama. Oleh karena itu Neoliberalisme akan lebih tepat jika disebut fundamentalisme pasar.
Apa yang menjadi agenda Neoliberal ? Pertama yaitu melakukan penataan ulang di bidang politik, hukum, budaya, hubungan kerja, pndidikan, kesehatan , dsb. Semuanya harus berjalan dalam satu paradigma bahwa berbagai bidang kegiatan dalam masyarakat harus diasumsikan sebagai kegiatan dengan motif pengejaran kepentingan diri privat. Dengan landasan seperti ini, menjadi logis bila privatisasi, deregulasi, komersialisasi, dan liberalisasi menjadi agenda Neoliberal karena merupakan tujuan akhir dalam paradigma Neoliberalisme.
PS. Resume dari tulisan Herry Priyono, “Sesat Neoliberalisme”, dikutip dari Kompas 28 Mei 2009.

0 comments:
Post a Comment