Kepakkan gaunmu mengayun turun, karena telah kubangun seribu menara
Dengan riuh cahaya lampu agar kau tahu
Masih menggetar samar jantungku disana dilaut……
Burung burung menjelma perempuan buta yang mencakar gitar diatas sampan;
seribu mantra bersetubuh dengan remang bulan
Dan sesuatu yang terampas dari ingatan tersalib di pematang pasang
Lalu raib menyaru gelombang –
apa yang terbabtis dibalik senyummu hingga segala jerit dari sajak sajakku tak dari jemari maut yang terapung buntung ?
apa termakhtub dicelah bibirmu hingga ribuan pekik ?
Dawai yang kucabik dengan ingatan seorang penyair sekedar bunyi gaib yang mencair.
aku tahu, igauanku barangkali
Tak berjawab, langit terlalu jauh dan tak mesti ada kabar bagi doa yang bingar !
Tetapi persekutuan yang kau pilih dengan diam,
Diam itu telah menghantarku pada badai lain,
dan aku tak mampu lagi
sembunyi atau sekedar gemetar memandang sampan yang mulai tergenang perlahan ini:
Oh jika remuk kembali langit di celah bibirmu
Jika lepuh seluruh cahaya dari rapuh mantraku
Biar laut menjadi nabi dari segala yang tak berbentuk
Pada segala karam yang terkutuk
*karya Kananta
ini puisi kalo kata anak gaul tuh gue banget lah... :)
aku tahu, igauanku barangkali
Tak berjawab, langit terlalu jauh dan tak mesti ada kabar bagi doa yang bingar !
Tetapi persekutuan yang kau pilih dengan diam,
Diam itu telah menghantarku pada badai lain,
dan aku tak mampu lagi
sembunyi atau sekedar gemetar memandang sampan yang mulai tergenang perlahan ini:
Oh jika remuk kembali langit di celah bibirmu
Jika lepuh seluruh cahaya dari rapuh mantraku
Biar laut menjadi nabi dari segala yang tak berbentuk
Pada segala karam yang terkutuk
*karya Kananta
ini puisi kalo kata anak gaul tuh gue banget lah... :)

0 comments:
Post a Comment